Showing posts with label Masjid Bank Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Masjid Bank Indonesia. Show all posts

Monday, September 15, 2014

Ujian Keimanan

Wacana SUFI ke-81

Iman ketika kita sedang maksiat, diibaratkan seperti matahari yang tertutup dan tidak muncul cahayanya, atau seperti lampu yang terhalang suatu benda tidak bisa menyinarkan cahayanya. Padahal lampu atau matahari tersebut sebenarnya tetap ada seperti sedia kala.

Ketika kita menghadiri satu forum, lingkungan atau majlis yang isinya bernuansa kebajikan, nuansa menguatkan kesadaran kita, maka akal kita menjadi terang lagi. 

Kalau toh usia kita pendek, itupun kualitasnya sungguh luar biasa, karena di forum itulah kita mendapatkan nuansa keimanan kembali, kemudian kita bisa khusyu', patuh/manut, khasyah (takut disertai rasa cinta), selanjutnya kita bisa merenung, berdzikir, dan lain sebagainya.

Itu semua adalah situasi yang terus menerus menghidupkan mesin ruhani kita. Tentu namanya mesin pasti didukung perangkat lainnya seperti dinamo, koil, pelumas oli, kabel-kabelnya, dll. 

Bagaimana supaya semua perangkat tersebut dapat hidup ? itu dihidupkan dengan kebaikan, kekhusyukan, khudur (selalu ingat), khasyah, dan dzikir-dzikir kita.

Kenapa seringkali kita sejenak sadar, terus alpa lagi, ingat kembali, hilang lagi keimanan kita ?

Karena kita berada di wilayah sedang diuji oleh Allah Ta'ala, tentu jawabannya pasti disembunyikan. Begitu juga iman kita itu diuji, apa rahasia kita diperintah beriman ? 

Seandainya rahasia iman yang selama ini kita yakini, dibuka oleh Allah Ta'ala, maka anda tidak akan mau berdekat-dekat dengan maksiat atau bahkan tidak akan pernah maksiat sama sekali. Hidup anda untuk ibadah, patuh terus, tidak mau melenceng.

Makanya tidak ada sesuatu yang menenggelamkan iman, kecuali seseorang yang membiarkan nafsunya. Tidak ada musuh terbesar kecuali syetan. Begitu kita usir syetan, dia akan pergi, ketika nafsu kita tak terkendali, syetan akan datang lagi dengan cara, situasi, dan siasat baru lagi, sesuai dengan ilmu pengetahuan dan tingkat derajat ketaqwaan kita.

Jika dia seorang profesor, jenis syetannya setara profesor, jika dia seorang Raja, jenis syetannya juga setara raja. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 7 Mei 2014]

Thursday, August 14, 2014

Rekaman Kajian Tasawuf - Ketegasan Terhadap Nafsu

Rekaman kajian Tasawuf Kitab Tajul 'Arus bersama Syech DR KHM Luqman Hakim

Tanggal : 13 Agustus 2014
Lokasi : Masjid Bank Indonesia, Jakarta Pusat


Link download :
https://docs.google.com/uc?id=0B4MeDhNxSLYLOGdYekEwY0t4eFk&export=download



wassalam

Wednesday, May 21, 2014

Mendidik dengan kilatan CahayaNYA

Wacana SUFI ke-80

Seseorang yang bisa mendidik bukanlah mendidik dengan verbal (kata-kata, tekstual). Tetapi seorang pendidik yang sesungguhnya adalah yang mendidik dengan kilatan cahayaNya. 
Tiba-tiba seseorang mengalami perubahan dalam dirinya. Sebenarnya seseorang tersebut di-didik sekaligus menjadi mandiri. 
Syech Abul Abbas Al Mursi QS mengatakan, kalo penyu mendidik anak-anaknya cukup dilepas. Ada telor calon anak penyu yang memang perlu dierami supaya menetas. Dan ada juga telor yang menetas dengan sendirinya, jika dierami justru busuk. 

Kadang-kadang para masyayikh mendidik kita seperti penyu tadi, harus mandiri hatinya. Itu artinya hati tidak boleh gampang bingung. Kita punya Allah, punya Iman, itu sudah cukup. Ada kemandirian di hatinya. 

Para masyayikh mendidik jiwa, seperti contoh penyu tadi. Penyu bertelor di darat, tetapi dia sendiri mendidik telor itu dari air. Setelah bertelor, dia tinggalkan ke sungai/air dan dia hanya lihat telornya dari jauh. Lalu Allah Ta'ala yang mendidik telor ini sampai menetas.

Seringkali kalo kita memahami perspektif kemursyidan sufi, bagaimana bisa seorang mursyid mendidik muridnya diujung sebelah sana yang tidak pernah bertemu ?

Yaitu dengan pandangan matahati, seperti penyu tadi melihat telornya, justru dia melihat dari air, padahal telor ada di darat.

Oleh karena itu Rasulullah SAW juga terus menerus mendidik umatnya, selain melalui ajaran yang sifatnya dohiriyah, maksudnya ada yang terbaca, ada gerakan, ada contohnya, dst dimana disana juga ada pendidikan, ibarat seperti silabus. 
Tetapi Rasulullah SAW juga memandang dengan segala cinta kasih sayang luar biasa sepanjang zaman. Cara mendidik Beliau melalui nur, itu bentuk syafaat Beliau kepada umatnya di dunia ini. 
Makanya umatnya agar "cerdas imannya", seperti yang diperintahkan Allah Ta'ala, agar bersholawat kepada Nabi. Sholawat itulah sebenarnya kita sedang belajar. Kita terus menerus mendapatkan limpahan cahaya Rasulullah SAW. 
Allah sendiri bersholawat, itukan menggambarkan betapa Rasulullah menjadi pusat nur yang akan membias ke seluruh umatnya 
sepanjang zaman. 
Nah, kita menyiapkan wadahnya, ibarat seperti menyiapkan lampu-lampu dan saklarnya agar klik menyala. Kalo tidak ada lampu dan saklarnya, tak akan pernah menyala, justru bisa menjadi korsleting. 
Sebanyak-banyaknya lampu dan saklar yang kita siapkan, dengan terus sholawat, lalu terang dan terus semakin terang. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 14 Mei 2014]

Monday, May 19, 2014

Air rohmat Allah menggenangi Hati Tawadhu


Wacana SUFI ke-79

Tak ada yang membuat seseorang runtuh dibanding kesombongan.

Ketika orang sombong, sebenarnya dia sudah runtuh. 

Hujan turun mengalir di tanah yang kondisinya menurun, dan tidak menggenang di atas kepala bukit.

Diibaratkan hati orang sombong, seperti kepala bukit yang posisinya di atas terus. 

Padahal hujan itu tidak pernah menggenang disana, tapi menggenangi  tanah-tanah yang rendah. 

Begitu juga air rohmat Allah Ta'ala, akan mengalir dan hanya berpindah dari wilayah hati yang sombong menuju hati yang tawadhu. 

Hati yang rendah, itu seperti tanah yang rendah, yang akan terus menerus digenangi rohmatnya Allah Ta'ala. 

Di dalam wudhu, kita diwajibkan untuk mengusap kepala, karena kepala itu tempat orang menegakkan eksistensi dirinya, untuk menyombongkan diri. 

Makanya sampai harus diusap saat kita wudhu, dan supaya air rohmat itu mengalir, kepala kita haruslah menunduk.

Apa yang kita jadikan alasan untuk sombong di dunia ini ? 

Tak sedikitpun atau tak satupun alasan untuk sombong. 

Yang dimaksud orang yang sombong yaitu orang yang menolak kebenaran, bukan lah orang yang memakai pakaian bagus, yang cakep atau memakai mobil bagus. 

Orang yang sombong selain menolak kebenaran, juga punya perasaan meremehkan orang lain. 

Ketika orang meremehkan orang lain, maka pada saat yang sama dia merasa lebih dari orang lain. 

Nah, itulah yang disebut sombong.

Walaupun pakainnya kumal, kalo dia meremehkan orang lain, jadinya sombong dia. 

Sedangkan orang yang tawadhu yaitu orang yang rendah hati, bukan rendah diri. 

Orang yang jiwanya terbuka, menerima fakta-fakta kehidupan yang berbeda-beda, dengan keluasan jiwa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 7 Mei 2014]

Wednesday, May 14, 2014

Tanda-tanda Orang Sukses

Wacana SUFI ke-78

Saya ini sukses atau tidak ya menjadi hamba Allah ?  
Apakah saya sukses ukhrowi atau tidak ya ?

Apa yang disebut sukses itu kariernya sukses, fasilitasnya sukses ?  padahal itu sukses duniawi belaka.  
Kalo kita tidak sukses ukhrowi, hidup kita ini akan sia-sia. Bertahun-tahun hidup, ternyata tidak sukses di akherat. 

Bagaimana cermin bahwa kita itu sukses ? 
ketika memulai apa saja hidup di dunia ini, senantiasa mengembalikan semua itu kepada Allah. Tandanya anda sukses.

Contoh : anda mau membaca Qur’an. Aku membuka Qur’an, nawaitu membuka Qur’an ini sesunguhnya dariMu, Allah. Inilah yang namanya kembali pada Allah. Engkau gerakkan melalui anugerahMu, dan ini juga kehendakMu. Sekarang ketika aku membaca Qur’an, juga bersamaMu, untuk apa saya membaca Qur’an ? hanya bagiMu. Itu namanya kembali pada Allah. 

Tiga suku kata mudah untuk diingat terus, ~minhu-bihi-ilaihi~ Dari Allah, Bersama Allah, Menuju Allah dalam segala hal. Itu akan membebaskan seluruh beban-beban amaliyah kita. 

Termasuk anda bekerja, bahwa aku bekerja ini karena dariMu. Sekarang aku berangkat bersamaMu. Untuk apa saya bekerja? hanya BagiMu, Allah. Menjadi ringan bekerjanya. 
Inilah tanda di akherat orang itu sukses. 

Siapa yang cemerlang awalnya, cemerlang pula akhirnya. Artinya cemerlang itu dilimpahi oleh Nur. Hatinya cemerlang yaitu hati yang dilimpahi oleh Nur. 

Kalo sejak awal kita ini bersama Allah, akhirnya tentu pasti menuju Allah. Tetapi coba kita tidak bersama Allah, bersama diriku sendiri, bersama kepentingan-kepentinganku sendiri, bersama selera-seleraku sendiri. Itu tidak akan bertemu Allah nanti. Walaupun kita sujud sampai hitam kepala kita. 

Jadi harus billah, bersama Allah awalnya. Ya Allah.....aku ini bersamamu, karena Engkau semua yang menggerakkan aku ini. Kenapa? karena ini kehendakMu semua. Aku tidak berdaya, Tuhan. 

Disitu lalu muncul pilihan-pilihan. Pilihan apa? Aku tidak ingin dalam proses ubudiyah ini, bersama makhlukMu, bersama hawa nafsuku, apalagi bersama syetan. Nanti aku menjadi tidak ketemu Engkau, Allah. 

Ketika sholat, ya Allah....ini Engkau. Semua ini yang menggerakkan Engkau, termasuk nawaituku juga. Itu setidak-tidaknya menghantar kita untuk tawajjuh (menghadap), lalu menjadi khusyu’ kita. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 3 Juli 2013]

Saturday, April 12, 2014

Melamun Ampunan Allah swt


Wacana SUFI ke-76

" Allah swt tidak rela kalau anda menjadi pecinta tapi tidak dicintai. Kita ini mencintai Allah, tapi Allah tidak suka. Maunya Allah itu, sang hamba mencintai dan dicintai. Itu artinya kalau kita ingin mencintai Allah, tetapi terus-menerus maksiat. Berarti kita mencintai tapi tidak dicintai.

Kemudian bagaimana posisinya sang kekasih dibanding sang pecinta ? Bagi seorang hamba yang mengenal, tentang berbuat baik. Misalnya kita mengenal ada seseorang, dimana dia berbakti kepada tuan yang baik sekali. Kemudian si hamba sengaja berbuat salah pada tuannya --yang seharusnya jangan dilakukan seperti tiu--. Merupakan suatu kebaikan seorang tuan, manakala melihat pembantunya atau pegawainya bersalah, dia justru memaafkan. Sebaliknya tuan yang tidak baik, apabila dia tidak mau memaafkannya.

Begitu juga kebaikan dan kebajikan ilahi, ketika ada seorang hamba menentang atau melanggar, justru dipanggil dan dibukakan pintu ampunanNya. “wahai hambaKU….. kemarilah!”. Bagi hamba yang mengenal Dia, maka akan segera memenuhi panggilan ampunanNya.

Kita tidak akan pernah mengenal, kalau tidak pernah muroqobah. Muroqobah itu mengintai dan mewaspadai Allah swt terus menerus. Orang mengenal (makrifat) akan selalu mengatakan, “aku ingin terus menerus dekat Engkau dan tidak ingin kehilangan Engkau, Allah”.

Orang tidak akan mendapat keuntungan, jika hatinya selalu sibuk dengan selain Dia. Dia itu memberi semuanya kepada kita dengan penuh cinta, namun kita sendiri justru sibuk dengan yang lain di hati kita. Kalau melakukan hal itu, berarti kita sedang tidak beruntung, sedang tidak mendapat keuntungan besar dari Allah swt.

Maka orang yang mengintai waspada, akan tahu bahwa nafsu selalu mendorong seseorang untuk berbuat kerusakan dan kehancuran. Nabi Adam saat turun dari surga ke dunia, doa yang selalu dipanjatkan, “Robbana dholamna anfusana”. Ya Allah, kami dholim, nafsu kami yang dholim ini. Sesungguhnya yang mengajak kami harus melanggar adalah nafsu kami.

Seseorang akan tahu bahwa hati selalu mengajak yang benar, ke jalan yang lurus. Orang maksiat kalau melihat kadar dirinya saat bermaksiat, dia akan mengetahui betapa agungnya ampunan Allah swt. Jika sudah tahu besarnya ampunanNya, maka dia justru akan menghindari dan tidak mau berbuat maksiat.

“lho, orang tersebut semakin bertambah maksiat saja ya ?” itu pasti karena dia tidak mengetahui kebesaran ampunan Allah swt. Kalau dia mengetahui Allah Maha Pengampun dan Maha Besar Ampunannya, maka dia pasti berhenti berbuat salah.

Jangan sampai kita seperti yang dikatakan oleh Al Hasan RA, ada seseorang berimajinasi atau melamun ampunan Allah swt. “Allah Maha Besar, saya husnudzon saja akan ampunan Allah, jadi kalo saya maksiat tidak apa-apa lah, khan Dia Maha Pengampun”. Nah ini namanya orang melamun ampunan, bukan benar-benar memohon ampunan. Kalau orang mohon ampun, pasti dia akan berbuat baik.

Kenapa ? karena sebenarnya perbuatan baik itulah yang menyongsong kebesaran agungnya ampunan. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 12 Maret 2014]

Thursday, April 3, 2014

Hati bekerja dengan Allah


Wacana SUFI ke-72

Kalo tiba-tiba makhluk pun mulai tidak cinta pada anda. Contoh paling sederhana, anda putus cinta, karena diputus oleh pacar. Maka bergembiralah, itu cara Allah menolong anda. Kenapa ? Allah pelan-pelan membukakan cinta itu hanya padaNYA. Kebahagiaan cinta sejati, hanyalah padaNYA, bukan pada makhluk. 
Makanya di AlQur’an disebutkan, “orang-orang yang tidak dilalaikan dirinya oleh aktivitas bisnis, dari berdzikir pada Allah”. (QS. An-Nuur: 37)
Jangan sampai aktivitas kerja kita itu, melalaikan hubungan hati kita dengan Allah. Urusan kerja dengan dunia cukuplah urusan tangan, pikiran, mata, telinga, hidung, indera, kaki atau aktivitas fisik lainnya. 
Lha, bagaimana dengan hati kita ? hati bekerja dengan Allah, dengan sepenuh cinta kepada Allah. Itulah cara kita memandang.

Link Download Rekaman Audio Mp3

Kalo hati kita bekerja dengan Allah, maka akan menumbuhkan Nur, cahaya yang menerangi dunia. Termasuk dunia kerja kita. 
Lalu apa yang terjadi ? bukan kemudian, “oh, saya mau berdzikir, supaya pekerjaan saya lancar”, jika demikian kita tadi berdzikir bukan pada Allah, tetapi sebenarnya pada pekerjaan, jadinya memanfaatkan Tuhan.  
Anda boleh berdoa, tapi jangan sampai menimbang dunia dengan dzikir, menimbang dunia dengan ibadah, menimbang dunia dengan kabajikan kemuliaan akherat. 
Terlalu kecil jika dunia ditimbang dengan akherat, sama sekali tidak seimbang. Makanya kalo kita berbuat baik, ya lillahita’ala saja, tidak usah dihubung-hubungkan dengan duniawi.  
Tetapi anda boleh berdoa untuk kepentingan dunia anda, justru bagus, supaya ditolong oleh Allah dunia anda. Kalo dunia anda ditolong oleh Allah, dunia ini tidak akan menguasai anda, tetapi anda yang bisa menguasai.  
Bagaimana cara menguasai dunia ini ? yaitu jika nafsu kita tidak terlibat di dalam proses-proses duniawi tadi. Kalo nafsu kita terlibat, kita kembali lagi dikuasai oleh dunia. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 2 April 2014 - rekaman menit ke 28:20]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Monday, March 17, 2014

Menganiaya Diri Sendiri

Wacana SUFI ke-70

Ada sesuatu yang kadang-kadang menutup diri kita, itu semata karena kita tidak mengenal, dan dimana posisi kita sebenarnya. 
Tetapi bagi orang yang mengenal posisinya, jika ada pilihan misalnya antara permata yang posisinya ada di tengah-tengah binatang buas, atau harus memilih gandum yang ada di dekat dia. Pasti kalo orang tahu posisinya, dia akan memilih gandum tadi. 
Maka kalo kita harus bertobat, berarti kita memilih tergolong orang-orang yang al mahbubin, orang-orang yang dicinta oleh Allah swt. 
Yang mahal itu cintanya Allah swt, dan orang yang tobat itu, sebenarnya orang yang siap dicintai oleh Allah swt. Kalo belum tobat, berarti dia tidak siap meraih cinta. 
 
Begitu juga orang yang menyucikan hatinya, penyuciannya berarti dia akan menumbuhkan akhlak-akhlak dan adab yang mulia di dalam hatinya. Maka dia benar-benar menyiapkan diri untuk menjadi lembah cintanya Allah swt. 
Karena itu, kalo kita bertobat termasuk minal mahbubin, sebaliknya kalo tidak minal dzolimin, tergolong orang-orang yang dzolim, terutama dzolim pada diri sendiri. 
Kita ini menganiaya atau mendzolimi diri kita sendiri, dengan segala bentuk tindak yang tidak diridhoi oleh Allah swt, itu sebenarnya kita sedang mendzolimi diri sendiri.  "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 12 Maret 2014 - video menit ke 03:50]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Friday, March 14, 2014

Jangan Putus Asa Bertobat

Wacana SUFI ke-69

" Orang yang tobat justru beruntung, dan sebaliknya yang tidak mau tobat tentu rugi. 
Dan jangan sampai kita putus asa, seperti ungkapan berikut “sampai kapan ya aku bertobat ini ? dan aku akan mengulang lagi dosaku, aku tidak bakal diampuni”.
 
Orang sakit saja sepanjang masih ada nyawanya, masih tetap berharap hidup. Kenapa orang itu ingin tobat ? karena dia ingin masih hidup hatinya, ingin hatinya kembali kepada Allah, harapannya seperti orang yang sakit tadi. 
Sebenarnya orang yang berdosa, ini kan seperti orang yang sakit. Dia sakit seberat apapun, tetap berharap sembuh dan hidup. 
Orang yang maksiat sebenarnya tetap memiliki harapan ingin bertobat. Tetapi karena sudah bertumpuk-tumpuk keputus-asaannya atas maksiat yang dilakukan, lalu dia benar-benar menjadi putus asa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 12 Maret 2014 - video menit ke 07:00]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Saturday, March 8, 2014

Perbuatan yang lebih besar dosanya

Wacana SUFI ke-67

Merencanakan maksiat itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya. 
Disebutkan oleh Syaikh Zarruq ada 5 hal perbuatan diluar dosa tapi lebih besar daripada dosanya.

  1. Orang yg semangat ketika mau maksiat. Semangat bermaksiat itu lebih besar dosanya dibanding maksiatnya.
  2. Membiayai maksiat. “apa kamu mau maksiat ? saya kasih duit padamu untuk bermaksiat”. Orang yang membiayai itu lebih besar dosanya daripada perbuatan dosanya. 
  3. Mendukung kemaksiatan. Ada tindakan maksiat justru didukung. Dukungan itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya.
  4. Menyepelekan atau meremehkan dosa. “ah kecil itu berdosa, Tuhan lebih besar ampunanNya”. Menyepelekan itu lebih besar daripada dosanya.
  5. Terus menerus berdosa. Habis berdosa, terus bertobat, setelah itu berdosa lagi. Wah pokoknya berdosa sudah sampai menjadi hobi. Hobi berdosa itu lebih besar dosanya dibanding tindakan dosa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA | 5 Maret 2014 - video menit ke 16:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Friday, February 7, 2014

Berilah Kemudahan dan Kabar Gembira

Wacana SUFI ke-56

Ada satu hadis “yassiru wala tuassiru bashiru wala tunaffiru ”, Rasulullah saw pernah bersabda “Permudahlah, Janganlah dipersulit, Berilah kabar gembira, Jangan dibuat orang itu tunggang langgang, lari dari sisimu”. 
Berdakwah itu harus membawa kabar yang menyejukkan jiwa, dan bukan malah mengusir orang. 
Bagaimana arti hadis ini secara tasawuf ?  
“yassiru wala tuassiru” artinya berilah kemudahan, jangan beri kesulitan. Apa yang dimaksud memudahkan dan yang menggembirakan itu ? yaitu jalan menuju Allah. 
“bashiru“ artinya berilah kabar gembira, yaitu tunjukkan mereka jalan menuju Allah, pasti orang akan menjadi gembira dan ringan.  
“wala tunaffiru” artinya jangan membuat lari tunggang langgang dan mengusirnya, itu pastilah jalan yang tidak menuju kepada Allah.  
 
Semua masalah hidup kita di dunia, pasti gara-garanya selain Allah, sehingga membuat kita tidak gembira dan membuat sulit. Sebenarnya memang selain Allah itu pasti tidak menggembirakan dan menyulitkan. 
Apakah seseorang bisa bersama Allah, disaat menghadapi berbagai persoalan ? seharusnya memang demikian, hati kita harus terus-menerus dengan Allah, masalah cukup kita lihat hanyalah sebagai masalah saja.  
Janganlah anda merasa asing dengan masalah-masalah di dunia, sepanjang Anda hidup di dunia, karena sifatnya dunia itu masalah. Dunia memiliki sifat dan karakter masalah itu sendiri. Berarti kalo kita memang nawaitu-nya hidup di dunia, tentunya harus berani menghadapinya.  
Ibnu ‘Athaillah mengatakan “kehendakmu untuk tajrid”, misalnya anda berkehendak “ya sudahlah, dunia isinya kok ruwet sekali, saya mau outbound, nyepi saja, tinggalkan semuanya. Saya ingin konsentrasi ke Allah saja!” 
Padahal justru ini nafsu yang tersembunyi, meskipun terlihat baik sekali niatnya ke Allah saja. Kenapa bisa disebut nafsu ? ternyata tujuan kita hanyalah ingin bebas dari beban dunia itu saja.  
Banyak orang beralasan kelihatannya menuju kepada Allah, tapi sebenarnya dia malas saja menghadapi dunia, dan inilah nafsu yang tersembunyi, tidak kelihatan. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 9 Februari 2011 - video menit ke 02:11]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Thursday, February 6, 2014

Cita-Citanya Bermajlis Dengan ALLAH Swt

Wacana SUFI ke-55

Janganlah putus asa! kalo Allah sudah menurunkan ampunan, sebesar apapun dosanya akan tampak sangat kecil. Ini soal bagaimana seseorang walaupun ibadahnya ‘belang bentong’ atau bolong-bolong, dan tidak karuan, tapi cintanya tetap harus kokoh kepadaNya. Hal ini penting untuk memegang rasa cinta kepada Allah swt, karena dengan rasa cinta tersebut akan banyak sekali tumbuh harapan luar biasa. 
Barangkali bisa diambil pelajaran dari kisah-kisah tobat di dalam kitab at-tawwabin. Kitab tersebut sudah saya terjemahkan ke dalam buku yang berjudul “Mereka Yang Kembali”. Berisi kisah tobatnya para malaikat, tobatnya para nabi, tobatnya raja-raja dholim, tobatnya ahli maksiat, tobatnya para pelacur, tobatnya orang-orang yang memiliki sifat-sifat sadis. Dalam kisahnya, semua tobatnya orang-orang tersebut diterima oleh Allah swt, hidupnya khusnul khotimah, dan diampuni oleh Allah swt. 
Kenapa bisa diampuni ? dan ada apa dibalik mereka semua ? meskipun memang tidak dijelaskan oleh pengarang kitab tersebut, tetapi sesungguhnya mereka semua barangkali iktimad-nya kepada Allah, bukan kepada amal baik dan amal buruk. Mereka punya cinta kepada Allah swt.
Dulu ada kisah seorang kepala desa di daerah Madiun, Jawa Timur. Hidupnya dari muda sampai sudah tua sekali, masih saja menjadi kepala desa. Keseharian hidupnya terus-menerus jaipongan/dangdutan, penuh hura-hura. Tapi pada akhirnya dia bertobat dan naik haji. 
Setelah bertobat, kemudian ditanya “Pak, besok cita-cita hidupmu seperti apa?”, dia bilang “sejak dulu cita-cita saya adalah nanti ingin setiap hari ‘jagongan’ dengan Gusti Allah!, terus-menerus bermajlis dengan Allah saja!”. 
Meskipun sejak dulu hidupnya penuh dengan maksiat, tapi keinginan bermajlis tersebut sangat dia tanamkan. Rupanya memang pada akhir masa tuanya minattaibin, bertobat dan menjadi bagus, karena sesungguhnya ada cahaya yang dia pegang terus-menerus di hatinya.
Kita tidak tahu, kapan cahaya itu kemudian menerangi yang lain-lain, yang penting pegang teguh cahaya cinta kepada Allah swt. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 5 Februari 2014 - video menit ke 33:20]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Saturday, February 1, 2014

Berdzikir Tanpa Motivasi Apapun

Wacana SUFI ke-52

" Para Arifun mengingat Allah sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan, tidak memiliki motivasi yang lain, apalagi fadilah. 
Tidak ada tujuan mencari fadilah bagi kaum Arifun, karena para Arifun menyadari dalam kondisi apapun Allah berhak diingat.  
Itu sama dengan, apakah Allah membuat atau tidak membuat surga dan neraka, Allah tetap berhak disembah! dengan segala perjuangan, keseriusan, kekhusyukan dan keikhlasan kita.  
Hal yang sama, apakah Allah memberi pahala atau tidak, membuat pahala atau tidak dibalik dzikir kita, Allah tetap berhak diingat! dengan segala-galanya, karena berdzikir itu niscaya -tidak boleh tidak-.
Niscaya disini maksudnya tidak disebabkan oleh latar belakang atau motivasi apapun! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 11 Desember 2013 - video menit ke 13:00]

Friday, January 31, 2014

Menghindari Menerjemahkan Perintah dan LaranganNya

Wacana SUFI ke-51

" Banyak para SUFI bermunajat ingin menghindari untuk menakwili dan menerjemahkan sebuah perintah ataupun sebuah larangan yang datangnya dari Allah swt. 
Misalnya dalam hal perintah shalat, Allah swt memerintahkan "tegakkanlah shalat", kemudian mereka meresponnya "baiklah, kalo begitu aku harus shalat dengan benar, hatiku juga harus benar pula".

Mereka menghindari untuk menakwilkan kenapa Allah memerintahkan aku shalat? hal seperti itu justru dihindari, sebab nanti rahmat dan fadhol Allah swt dibalik shalat akhirnya menjadi terbatas. 
Apa yang dimaksud 'terbatas' itu ? yaitu terbatas menurut takwil kita, padahal anugerah Allah di balik shalat itu tak terhingga. 
Akibat kita mencoba mengurai alasannya kenapa Tuhan memerintahkan kita shalat, hingga uraiannya menjadi buku yang bertumpuk-tumpuk, akhirnya anugerah yang kita dapatkan hanya sebatas dan sebanyak itu saja. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 22 Januari 2014 - video menit ke 10:00]

Thursday, January 30, 2014

Mengembalikan Pilihan Kepada ALLAH Swt

Wacana SUFI ke-50

Kita memohon kepada Allah swt, agar dicukupkan dengan ikhtiar pilihan-pilihanNya, bukan pilihan kita sendiri. 
Manusia itu memilih, ketika memilih tentu saja dengan cara pandang terbatas, makanya pilihannya juga terbatas, sedangkan dibalik yang terbatas itu, ada hal yang tidak terbatas yang kita tidak mengerti. Karena itu ya Allah, berikanlah aku pilihanMu. 
Bahkan Rasulullah saw mengajari kita shalat istikhoroh, supaya pilihannya datang dari Allah, karena tentu yang bagus itu dari Allah. Seandainya anda bingung memilih, shalat istikhoroh saja,  supaya diberi pilihan oleh Allah swt. 
Segala sesuatunya kita kembalikan kepada pilihannya Allah, dan kita tidak memandang pilihan kita. Kalo manusia menuruti pilihannya sendiri, bakalan tidak akan pernah selesai, “kelihatannya pilihan saya kalo sudah sampai disini, sudah final”, begitu tercapai maksud pilihannya, ternyata belum selesai, masih ada lagi, hal ini akan terus terjadi seperti itu dan tidak ada habisnya. 
Terserah bagaimana pilihannya Allah, tugas kita adalah berikhtiar, berusaha dan berdoa, bukan menentukan bentuk, wujud, kapan, dalam kondisi dan situasi seperti apa pada akhirnya. Sebenarnya tidak ada doa yang tidak diijabahi, semuanya dijawab oleh Allah, dan yang lebih tahu kapan waktunya serta yang pas bagi kita tentunya Allah juga, bahkan kita pun tidak tahu tentang diri kita sendiri. 
Tujuannya untuk apa mengembalikan pilihannya kepada Allah ? agar kita bisa bersama Allah dan hanya menuju kepada Allah. Kalo kita menuju kepada Allah tapi menuruti jalan, selera dan pilihan kita, nantinya  tidak akan sampai kepada Allah, biarlah mengikuti jalan yang dipilih oleh Allah. 
Kadang-kadang manusia itu sangat dienakkan oleh Allah tapi manusia justru mencari sulit, makanya Allah menyebutkan “Hai Manusia, kalian ini lebih banyak dholim dan bodoh banget!”. Pada saat kita dan semua makhluk --bumi, gunung, langit, dst-- ditawari amanah oleh Allah, semuanya menolak menjawab tidak mampu, kecuali manusia yang punya usul “saya saja, ya Allah!”. Akhirnya benar-benar diberi oleh Allah, yang kemudian dikatakan “manusia ini kok mencari berat!”. 
Tetapi sebenarnya dibalik itu semua, ada rahasianya Allah, kenapa kemudian amanah itu oleh Allah diberikan kepada manusia.   
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 6 April 2011 - video menit ke 2:40]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 

Link Download Rekaman Audio Mp3


Monday, January 27, 2014

Pahala Hanya Dipetik Kelak Di Akherat


Wacana SUFI ke-47

" Amaliyah itu bentuk balasanya seperti apa ya ? dan kapan diberikannya ?
Balasan dari amaliyah sebenarnya wujud nyatanya tidak akan pernah bisa kita lihat di alam nyata sekarang yaitu di dunia ini. 
Oleh sebab itu, kita jangan memiliki pemikiran misalnya sehabis beribadah atau berbuat baik lainnya, kemudian berangan-angan, "Tuhan mana pahalanya ? saya khan sudah lama berbuat baik!" 
Balasan berupa pahala itu hanya kita petik kelak di akherat. 
Namun seandainya ada seorang manusia ketika melakukan amal ibadah ukhrowiyah, kemudian dia meminta ganti rugi kepada Allah berupa keuntungan-keuntungan duniawiyah, itupun oleh Allah akan tetap diberi, tapi kelak di akherat dia bakal tidak mendapatkan apa-apa! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 4 Des 2013 - video menit ke 00:00]

Sunday, January 26, 2014

Nuur Harus Membuahkan Amaliyah



Wacana SUFI ke-46

" Kadar cahaya di dalam hati dan di hakekatnya hati -sirr-, tidak akan pernah diketahui seberapa besar kadarnya, kecuali di alam malakut yang tersembunyi dan ghoib. 
Apa yang dimaksud cahaya hati dan rahasia hati ? yaitu kesadaran-kesadaran terbukanya gerbang makrifatullah dan pengetahuan-pengetahuan kebenaran yang hakiki, ini disebut nuur yang memancar di dalam hati kita. 
Maksudnya alam malakut yaitu sebuah alam yang tersembunyi dari logika-logika. Kita tidak bisa melogikakan nuur itu seperti apa ? itu pasti tidak bisa. Harus dipahami bahwa sebuah kesadaran itu tidak logis, kalo pun ada logikanya, tentu logika di alam malakut itu sendiri. 
Orang begitu rindu luar biasa kepada Allah, ini logikanya seperti apa ya ? tentunya tidak bisa dilogikakan, hanya bisa dirasakan! sebagaimana cahaya-cahaya yang memantul di cakrawala, hanya bisa dilihat di alam nyata ini. 
Oleh karena itu yang sangat penting adalah bagaimana cahaya tersebut dapat membuahkan amaliah! Amaliyah itulah sebagai perwujudan dari munculnya nuur tadi.
Jadi gradasinya seperti berikut: 
1. Nuur melimpah di alam qolbu dan alam rahasia qolbu. 
2. Kemudian bergeraklah menjadi perwujudan yang namanya amaliah, dan yang sedang mengalir di hati kita namanya ahwaliyah. Sehingga ada istilah akmaliyah dan ada ahwaliyah. 
Ahwaliyah itu amaliyah Bathin, sedangkan Akmaliyah itu amaliyah Lahiriyah. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 4 Des 2013 - video menit ke 00:00]

Thursday, January 23, 2014

Mendidik Hati Hadir Dihadapan Allah


Wacana SUFI ke-43

" Seputar dzikrullah yaitu manusia berdzikir terbagi dalam tiga tipikal :
1. Kalangan Publik, umumnya orang berdzikir, dia berharap dengan dzikir bisa mengambil faedah sebagai bentuk permulaan untuk proses-proses tazkiyatun nufus, membersihkan jiwa dan menyucikan hati. 
2. Kalangan Khusus yaitu kalangan para Ulama, berdzikir dalam upaya untuk merespon ketentuan-ketentuan dari Allah Swt. 
3. Kalangan Lebih Khusus lagi, berdzikir sebagai akibat dari limpahan-limpahan hidayah dari Allah, supaya bisa terus-menerus waspada kepada Allah. Kadang kewaspadaan kepada Allah itu menghilang dari diri kita sendiri, sehingga sebenarnya kita sendiri memjadi lupa atau alpa bahwa Allah itu Maha Waspada kepada kita. 
Berdzikir umumnya untuk proses penyucian dan pembersihan, biasanya dilatih dengan dzikir nafi dan isbat, maksudnya dzikir yang diawali dengan nafi dan diakhiri dengan isbat yaitu LAAILAHAILLAH. Ketika orang menyebut tidak ada Tuhan, itu berarti seluruh asma', sifat dan semuanya tidak ada kecuali hanya Allah. 
Bahkan kemudian dalam praktek-praktek melatih dzikrullah, sejumlah thoriqoh memiliki metode proses pendidikan penyucian dibalik dzikir, sedikit berbeda-beda walaupun tujuannya sama. Itu semua adalah metode-metode yang sesungguhnya berguna untuk mendidik proses hati kita supaya hudhur, hadir betul diri kita di hadapan Allah. 
Betapa banyak orang berdzikir tetapi sesungguhnya tidak pernah hadir di depan Al-Madzkur yang kita dzikiri! "  
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 11 Desember 2013 - video menit ke 00:00]

Wednesday, January 22, 2014

Senantiasa Terdesak Terus Menerus



Wacana SUFI ke-42

" Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary dalam munajatnya, Ya Tuhanku, wujudkanlah atau manifestasikanlah diriku ini sebagaimana para muqorrobun. Orang-orang yang sangat dekat Allah, dalam memasuki lembah hakekatNya. Para ahlul qurb itu terus-menerus memandang sifat-sifatMu, karena itu mereka merasa cukup denganMu. 
Yang disebut puas, tempat segala muara, tempat segala bergantung, atau apapun itu adalah Engkau sendiri, sehingga mereka semua berserah diri padamu. 
Mereka ini tidak menyerahkan kepada selain Engkau dan mereka tidak merasa ada kegundahan akan pertolonganMu. Begitu juga tidak memiliki satu angan-angan lain, cita-cita lain, atau keinginan lain, dengan adanya kehadiran anugerahMu. Ini wataknya ahlul Qurb (muqorrobun). 
Hantarkanlah penempuhanku ini, perjalanan menempuh menuju kepadaMu, suluk-ku, seperti sebagaimana yang ditempuh ahlul jadz -jadzab-. Orang-orang yang jiwanya tersedot, tertarik, dan terfokus terus-menerus kepadaMu. Orang madzub yang terus-menerus mereka ini berada di hadapanMu, dengan pandangan rasa penuh butuh terus-menerus kepadaMu. 
 
Jadi ahlul jadz itu jiwanya terus butuh kepada Allah, bukan seperti misalnya beberapa kali butuh, nanti tidak butuh lagi. Dia jaga terus rasa butuh kepada Allah, begitu juga hamparan yang dia injak, tempat dia duduk, selalu dalam suasana terdesak terus-menerus. 
Apa yang dimaksud terdesak terus-menerus? yaitu aksentuasi dari ketakberdayaan, ketakmampuan, ditambah rasa butuh dan yang tidak bisa dia penuhi selama-lamanya. Itu berkumpul menjadi satu, dan dia pertahankan supaya terus begitu di hadapanMu. 
Mereka merasa jangan sampai tidak terdesak. Merasa tidak terdesak itu artinya merasa mampu, kalo kata orang jawa “rumongso biso”. Hal ini dijaga betul oleh ahlul jadz, supaya tidak ada rasa “rumongso”  -merasa- "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 22 Jan 2014 - video menit ke 03:50]