Showing posts with label Amal. Show all posts
Showing posts with label Amal. Show all posts

Wednesday, May 21, 2014

Mendidik dengan kilatan CahayaNYA

Wacana SUFI ke-80

Seseorang yang bisa mendidik bukanlah mendidik dengan verbal (kata-kata, tekstual). Tetapi seorang pendidik yang sesungguhnya adalah yang mendidik dengan kilatan cahayaNya. 
Tiba-tiba seseorang mengalami perubahan dalam dirinya. Sebenarnya seseorang tersebut di-didik sekaligus menjadi mandiri. 
Syech Abul Abbas Al Mursi QS mengatakan, kalo penyu mendidik anak-anaknya cukup dilepas. Ada telor calon anak penyu yang memang perlu dierami supaya menetas. Dan ada juga telor yang menetas dengan sendirinya, jika dierami justru busuk. 

Kadang-kadang para masyayikh mendidik kita seperti penyu tadi, harus mandiri hatinya. Itu artinya hati tidak boleh gampang bingung. Kita punya Allah, punya Iman, itu sudah cukup. Ada kemandirian di hatinya. 

Para masyayikh mendidik jiwa, seperti contoh penyu tadi. Penyu bertelor di darat, tetapi dia sendiri mendidik telor itu dari air. Setelah bertelor, dia tinggalkan ke sungai/air dan dia hanya lihat telornya dari jauh. Lalu Allah Ta'ala yang mendidik telor ini sampai menetas.

Seringkali kalo kita memahami perspektif kemursyidan sufi, bagaimana bisa seorang mursyid mendidik muridnya diujung sebelah sana yang tidak pernah bertemu ?

Yaitu dengan pandangan matahati, seperti penyu tadi melihat telornya, justru dia melihat dari air, padahal telor ada di darat.

Oleh karena itu Rasulullah SAW juga terus menerus mendidik umatnya, selain melalui ajaran yang sifatnya dohiriyah, maksudnya ada yang terbaca, ada gerakan, ada contohnya, dst dimana disana juga ada pendidikan, ibarat seperti silabus. 
Tetapi Rasulullah SAW juga memandang dengan segala cinta kasih sayang luar biasa sepanjang zaman. Cara mendidik Beliau melalui nur, itu bentuk syafaat Beliau kepada umatnya di dunia ini. 
Makanya umatnya agar "cerdas imannya", seperti yang diperintahkan Allah Ta'ala, agar bersholawat kepada Nabi. Sholawat itulah sebenarnya kita sedang belajar. Kita terus menerus mendapatkan limpahan cahaya Rasulullah SAW. 
Allah sendiri bersholawat, itukan menggambarkan betapa Rasulullah menjadi pusat nur yang akan membias ke seluruh umatnya 
sepanjang zaman. 
Nah, kita menyiapkan wadahnya, ibarat seperti menyiapkan lampu-lampu dan saklarnya agar klik menyala. Kalo tidak ada lampu dan saklarnya, tak akan pernah menyala, justru bisa menjadi korsleting. 
Sebanyak-banyaknya lampu dan saklar yang kita siapkan, dengan terus sholawat, lalu terang dan terus semakin terang. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 14 Mei 2014]

Wednesday, May 14, 2014

Tanda-tanda Orang Sukses

Wacana SUFI ke-78

Saya ini sukses atau tidak ya menjadi hamba Allah ?  
Apakah saya sukses ukhrowi atau tidak ya ?

Apa yang disebut sukses itu kariernya sukses, fasilitasnya sukses ?  padahal itu sukses duniawi belaka.  
Kalo kita tidak sukses ukhrowi, hidup kita ini akan sia-sia. Bertahun-tahun hidup, ternyata tidak sukses di akherat. 

Bagaimana cermin bahwa kita itu sukses ? 
ketika memulai apa saja hidup di dunia ini, senantiasa mengembalikan semua itu kepada Allah. Tandanya anda sukses.

Contoh : anda mau membaca Qur’an. Aku membuka Qur’an, nawaitu membuka Qur’an ini sesunguhnya dariMu, Allah. Inilah yang namanya kembali pada Allah. Engkau gerakkan melalui anugerahMu, dan ini juga kehendakMu. Sekarang ketika aku membaca Qur’an, juga bersamaMu, untuk apa saya membaca Qur’an ? hanya bagiMu. Itu namanya kembali pada Allah. 

Tiga suku kata mudah untuk diingat terus, ~minhu-bihi-ilaihi~ Dari Allah, Bersama Allah, Menuju Allah dalam segala hal. Itu akan membebaskan seluruh beban-beban amaliyah kita. 

Termasuk anda bekerja, bahwa aku bekerja ini karena dariMu. Sekarang aku berangkat bersamaMu. Untuk apa saya bekerja? hanya BagiMu, Allah. Menjadi ringan bekerjanya. 
Inilah tanda di akherat orang itu sukses. 

Siapa yang cemerlang awalnya, cemerlang pula akhirnya. Artinya cemerlang itu dilimpahi oleh Nur. Hatinya cemerlang yaitu hati yang dilimpahi oleh Nur. 

Kalo sejak awal kita ini bersama Allah, akhirnya tentu pasti menuju Allah. Tetapi coba kita tidak bersama Allah, bersama diriku sendiri, bersama kepentingan-kepentinganku sendiri, bersama selera-seleraku sendiri. Itu tidak akan bertemu Allah nanti. Walaupun kita sujud sampai hitam kepala kita. 

Jadi harus billah, bersama Allah awalnya. Ya Allah.....aku ini bersamamu, karena Engkau semua yang menggerakkan aku ini. Kenapa? karena ini kehendakMu semua. Aku tidak berdaya, Tuhan. 

Disitu lalu muncul pilihan-pilihan. Pilihan apa? Aku tidak ingin dalam proses ubudiyah ini, bersama makhlukMu, bersama hawa nafsuku, apalagi bersama syetan. Nanti aku menjadi tidak ketemu Engkau, Allah. 

Ketika sholat, ya Allah....ini Engkau. Semua ini yang menggerakkan Engkau, termasuk nawaituku juga. Itu setidak-tidaknya menghantar kita untuk tawajjuh (menghadap), lalu menjadi khusyu’ kita. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 3 Juli 2013]

Tuesday, April 8, 2014

Menepis Riya

Wacana SUFI ke-74

" Ada orang yang ibadahnya tekun, tapi tidak pernah paham hakikat ibadahnya. Rupanya memang bijinya tidak ditanam. Atau besar sekali pohonnya, tapi tidak ada buahnya. Dulu memang dilempar begitu saja. Buah mangga itu tumbuh sendiri, besar dan tidak berbuah. Atau belum sampai tumbuh sudah busuk. Ini adalah bahayanya riya.  
Hubungannya dengan Ikhlas, bagaimana menepis Riya ? harus disembunyikan hatinya. Anda tetap berbuat baik dengan siapapun, biarkan saja dilihat orang. Sedangkan hubungan hati anda dengan Allah, biar Allah saja yang tahu.  
Dawuhnya Syech Abdul Jalil almaghfurlah, “ Rahasiakan Allahmu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacatmu”. Artinya kualitas hubungan kita, kualitas imaniyah kita dengan Allah harus disembunyikan.  
Sebenarnya kita mengingat akherat saja, belum mengingat di hadapan Allah. Misalnya iman anda ini hebat, orang se-indonesia menyebut anda orang paling beriman. Anda punya nama besar karena anda paling beriman. Atau disebut orang paling makrifat misalnya. Bahkan disebut orang seluruh dunia sebagai paling hebat, apakah ada pengaruhnya di akherat ? khan tidak ada pengaruhnya di akherat. 
Malu juga, ternyata di akherat tidak ada artinya disebut orang paling hebat. Apalagi di depan Allah, tentu lebih malu lagi, “mana kehebatanmu hambaKu ? kamu khan tidak pernah membuat, itu ciptaanKu”.  
Dengan begitu orang menjadi “plong”, hidupnya jadi tulus. Kenapa aku sulit bisa tulus ? karena kita memang tidak “plong”. Banyak yang kita sembunyikan dan takuti, lalu kita berbuat baik pun untuk menutupi rasa takut kita. Takut kalo dikatakan begini, takut kalo tidak dikatakan begitu.  
Itu membuat jalan kita tersandung-sandung. Jalan hati atau jalan iman kita kepada Allah swt yang sebenarnya tersandung-sandung. "
[ DR KHM Luqman Hakim | Masjid Jami AlMunawwaroh, GUSDUR, Ciganjur Jaksel | 7 April 2014 ]

Friday, April 4, 2014

Mendidik Keikhlasan

Wacana SUFI ke-73

" Bagaimana kita mendidik dan menjaga keikhlasan ? 
Pendamlah dirimu atau wujudmu di dalam gundukan tanah yang sunyi. Tapi bukan dengan dikubur, “wah, ini harus topo mendem”. Maksudnya diri adalah sebuah kualitas. Kualitas yang selama ini ada di dalam dirimu, yang berhubungan dengan Tuhanmu, pendamlah dan jangan ditampakkan. Kualitas hubungan kita dengan Allah, harus kita sembunyikan betul, seperti orang memendam mayatnya. 
Sebuah pohon yang tidak pernah dipendam bijinya, tidak akan pernah sempurna tumbuhnya. Orang ahli ibadah, ahli amal, ahli kebaikan yang setiap hari dipamer-pamerkan, tidak akan pernah sempurna spiritualitasnya orang itu. Meskipun mungkin saja dia tumbuh, seperti pohon yang tumbuh besar sekali, tetapi tidak ada buahnya. 
Ada pohon besar sekali, tapi tidak pernah berbuah, biasanya bijinya tidak dipendam, bijinya dilempar begitu saja, tumbuh sendiri dan liar. Tumbuhnya tidak sempurna, karena tidak di didik, bijinya tidak dicangkul, dipupuk, penyakitnya dibuang dan dipagari. 
Keiklasan amaliyah, harus kita sunyikan. "Ya Allah, biar Engkau saja, yang tahu kebaikanku". Misal dalam hal sholat, biarlah yang tahu hubungan hatiku dengan Engkau ketika aku shalat, cukup Engkau sendiri. Malaikat jangan boleh tahu, Tuhan. Sebab kalau malaikat tahu, akan mencatatnya. Jika dicatat, isinya mungkin akan banyak kurangnya. 
Hal yg sama, ketika biji disebar, biasanya kalau tidak dipatuk burung, dimakan ulat atau tumbuh tidak sempurna seperti tadi. Begitu juga kualitas hubungan kita dengan Allah, kalau kita tunjuk-tunjukkan ke orang lain, akan dipatuk oleh setan. Kualitas hati yang dipatuk dan dicuri oleh setan karena diperlihatkan, jadinya langsung diganti dengan takabur, takjub diri, riya atau bangga. 
Dikatakan oleh Syech Abul Abbas Al Mursi, “Siapa yang menginginkan popularitas, berarti dia bukan hambanya Allah, tapi hambanya popularitas. Siapa yang menginginkan tersembunyi, dia hambanya tersembunyi”. 
Saya mau bersembunyi saja, kenapa ? supaya makhluk-makhluk tidak melihat saya. Dan nanti kalau saya menyembunyikan sedekah atau perbuatan baik, nanti saya akan disebut orang ikhlas. Anda menyembunyikan sesuatu, karena ingin disebut ikhlas, itu namanya riya. Jadi baiknya biasa-biasa saja lah. 
Yang disebut hamba Allah itu, tampak ataupun tersembunyi, sama saja. Orang berusaha menyembunyikan, misal anda ingin menyembunyikan, itu jangan karena ingin tersembunyi. Ada orang yang menyembunyikan sesuatu, khawatir kalau ditampakkan jadi bahaya, sebaiknya disembunyikan saja. Atau ada orang ingin menampakkan sesuatu, tetapi kalau ditampakkan bisa habis-habisan, sebaiknya disembunyikan saja. Ini adalah proses mendidik.  
Kalau sdh sempurna sebagai hamba Allah atau Abdullah, dia tidak ada urusan tampak ataupun tersembunyi, karena sudah bukan hambanya tampak atau hambanya tersembunyi, tapi hambanya Allah. Seperti itulah latihan keikhlasan kita. 
Jangan sampai kita berbuat baik, tapi menunggu ikhlas. Berbuat baik sajalah, kadang-kadang Allah menurunkan anugerah ikhlas, tanpa kita duga. Misal anda berdzikir tapi belum bisa ikhlas, tetap dzikir saja, nanti tiba-tiba ikhlas datang juga. Ikhlas itu juga tidak bisa kita usahakan, itu anugerah Allah. 
Orang di didik dengan Lillahita’ala, apa sudah ikhlas? belum, itu baru menyiapkan diri untuk wadahnya ikhlas. Sebesar apa kualitas lillahita’ala itu, sebesar itulah Allah memberi ikhlas, dan rasa lillahita’ala masing-masing orang berbeda. "
[ DR KHM Luqman Hakim | Kantor Pusat PT TELKOMSEL | 27 Maret 2014 ]

Thursday, April 3, 2014

Hati bekerja dengan Allah


Wacana SUFI ke-72

Kalo tiba-tiba makhluk pun mulai tidak cinta pada anda. Contoh paling sederhana, anda putus cinta, karena diputus oleh pacar. Maka bergembiralah, itu cara Allah menolong anda. Kenapa ? Allah pelan-pelan membukakan cinta itu hanya padaNYA. Kebahagiaan cinta sejati, hanyalah padaNYA, bukan pada makhluk. 
Makanya di AlQur’an disebutkan, “orang-orang yang tidak dilalaikan dirinya oleh aktivitas bisnis, dari berdzikir pada Allah”. (QS. An-Nuur: 37)
Jangan sampai aktivitas kerja kita itu, melalaikan hubungan hati kita dengan Allah. Urusan kerja dengan dunia cukuplah urusan tangan, pikiran, mata, telinga, hidung, indera, kaki atau aktivitas fisik lainnya. 
Lha, bagaimana dengan hati kita ? hati bekerja dengan Allah, dengan sepenuh cinta kepada Allah. Itulah cara kita memandang.

Link Download Rekaman Audio Mp3

Kalo hati kita bekerja dengan Allah, maka akan menumbuhkan Nur, cahaya yang menerangi dunia. Termasuk dunia kerja kita. 
Lalu apa yang terjadi ? bukan kemudian, “oh, saya mau berdzikir, supaya pekerjaan saya lancar”, jika demikian kita tadi berdzikir bukan pada Allah, tetapi sebenarnya pada pekerjaan, jadinya memanfaatkan Tuhan.  
Anda boleh berdoa, tapi jangan sampai menimbang dunia dengan dzikir, menimbang dunia dengan ibadah, menimbang dunia dengan kabajikan kemuliaan akherat. 
Terlalu kecil jika dunia ditimbang dengan akherat, sama sekali tidak seimbang. Makanya kalo kita berbuat baik, ya lillahita’ala saja, tidak usah dihubung-hubungkan dengan duniawi.  
Tetapi anda boleh berdoa untuk kepentingan dunia anda, justru bagus, supaya ditolong oleh Allah dunia anda. Kalo dunia anda ditolong oleh Allah, dunia ini tidak akan menguasai anda, tetapi anda yang bisa menguasai.  
Bagaimana cara menguasai dunia ini ? yaitu jika nafsu kita tidak terlibat di dalam proses-proses duniawi tadi. Kalo nafsu kita terlibat, kita kembali lagi dikuasai oleh dunia. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 2 April 2014 - rekaman menit ke 28:20]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, March 18, 2014

Arah Wajah Kita

Wacana SUFI ke-71

Orang Yahudi itu kalo shalat ke barat, orang Nashoro kalo sembahyang menghadap ke timur. Tidak bagus kalo kita mengarahkan wajah kita itu ke barat atau timur. 
--- Al-Birru itu sebuah kebajikan yang didalamnya mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan. akhlak, adab. Salah satu nama Allah itu Al-Birru ---
Kenapa Allah menyebutkan ini soal wajah yang mengarah ? ini menggambarkan bahwa orang Yahudi dan Nashoro lebih banyak memandang kebenaran (al-birru) dari aspek lahiriah/dhohiriyah belaka. Soal dhohir itu soal arah, fisik, dimensi, penjuru, ruangan. Inilah yang dikonsentrasikan oleh dua agama tersebut. 
Bagi Islam, yang bagus bukan soal sekedar mengarah tempat, ruang, penjuru, dll tetapi man amana billah (beriman kepada Allah). Kemanapun engkau menghadapkan wajahmu, maka disanalah wajah Allah.
Apa yang dimaksud mengarahkan wajah disini ? dan apa pula yang dimaksud wajah Allah ?
Kemudian ada pertanyaan, “wajah Allah tidak kelihatan oleh mata kita, kok kita harus mengarahkan wajah, ini bagaimana ya ?”. 
Maksudnya wajhullah adalah arah ilahiyah atau kalo gambaran masa sekarang perspektif sebuah arah yang terdiri dari 2 yaitu arah yang dhohir dan arah yang bathin. 
Jadi yang dimaksud al-birru disini bahwa menghadapkan adalah wajah bathin kita. Kemanapun engkau menghadapkan wajah dhohir, anda harus memandang dengan wajah bathin. 
Wajah dhohir kita ini, di dalamnya ada banyak macam, ada lisan, ada hidung, ada mata, ada bentuk, ada alis, ada telinga. Wajah manusia tersebut banyak dan diwakili oleh apa ? 
Seluruh tubuh/diri diwakili oleh kepala. Seluruh badan diwakili oleh hati. Wajah diwakili oleh mata. Kalo wajahnya hati, diwakili oleh mata hati. 
Mata kepala kita selalu memandang yang tampak secara lahiriyah. Mata hati kita selalu memandang yang bersifat maknawiyah, hakikiyah. 
Karena yang dipandang oleh mata hati maknawiyah, maka Allah mengarahkan mata hatimu harus 'melek', yang bagus itu adalah man amana billah yaitu orang yang beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, beriman kepada Malaikat dan kitab serta beriman kepada para Nabi. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami Baiturrohim, Beji Timur, Depok | 8 Maret 2014 - video menit ke 02:20]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Saturday, March 8, 2014

Perbuatan yang lebih besar dosanya

Wacana SUFI ke-67

Merencanakan maksiat itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya. 
Disebutkan oleh Syaikh Zarruq ada 5 hal perbuatan diluar dosa tapi lebih besar daripada dosanya.

  1. Orang yg semangat ketika mau maksiat. Semangat bermaksiat itu lebih besar dosanya dibanding maksiatnya.
  2. Membiayai maksiat. “apa kamu mau maksiat ? saya kasih duit padamu untuk bermaksiat”. Orang yang membiayai itu lebih besar dosanya daripada perbuatan dosanya. 
  3. Mendukung kemaksiatan. Ada tindakan maksiat justru didukung. Dukungan itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya.
  4. Menyepelekan atau meremehkan dosa. “ah kecil itu berdosa, Tuhan lebih besar ampunanNya”. Menyepelekan itu lebih besar daripada dosanya.
  5. Terus menerus berdosa. Habis berdosa, terus bertobat, setelah itu berdosa lagi. Wah pokoknya berdosa sudah sampai menjadi hobi. Hobi berdosa itu lebih besar dosanya dibanding tindakan dosa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA | 5 Maret 2014 - video menit ke 16:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Monday, February 24, 2014

Beda Bisikan Ilahi, Malaikat, Syetan dan Nafsu

 

Wacana SUFI ke-65

Himmah adalah cita-cita/hasrat yang kuat.  
Himmah muncul setelah irodah/kehendak, dan awal perjalanan kehendak/hasrat kita itu diawali oleh intuisi. 
Intuisi terbagi menjadi empat macam dan bagaimana cara kita membedakannya ?   
1. intuisi ilahi  
intuisi berupa seseorang diberi langsung oleh Allah swt, biasanya berupa ilham, karakteristiknya seseorang tiba-tiba tumbuh sebuah kesadaran yang luar biasa untuk dekat dengan Allah swt. 
2. intuisi malaikat 
Intuisi malaikat itu semacam terjadi dialog didalam bathinnya yang menuju kepada Allah swt. 
 
3. intuisi syetan 
Sebaliknya intuisi syetan juga terjadi dialog di dalam bathinnya tetapi berjalan menjauh dari Allah swt dan menuju keburukan. 
4. intuisi nafsu 
Kalo intuisi nafsu itu serentak, tetapi munculnya serba ingin senang, enak, malas, bebas dari tanggung jawab dst.  
 ------
Intuisi turun menjadi Irodah atau cita-cita/kehendak, lalu muncul menjadi himmah/hasrat. Dari hasrat menjadi azzam/tekad, dari tekad turun menjadi 'menuju tekad' baru berubah menjadi niat.  
Jadi niat itu posisi paling bawah dari gradasi intuisi. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Kantor Pusat PT TELKOMSEL Jakarta Selatan | 23 Januari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, February 18, 2014

Ingin Surga Dunia Harus Ridho

Wacana SUFI ke-62

Ada orang yang sudah berusaha dan melakukan amaliyah apapun, tapi sering tidak merasakan bahagia, sebenarnya mana yang disebut bahagia itu ? ini adalah kalimat yang menjebak.  
Sebenarnya di dunia ini bukan tempatnya bahagia, juga bukan tempatnya senang. Bahagia dan senang hanyalah sesuatu sepintas lewat saja. Justru ketika kita ridho, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. 
Surga itu isinya kebahagiaan. Jadi kalo ingin merasakan surga di dunia, harus ridho!. Ridho itu pintu Allah yang paling agung dan surga dunia. Termasuk ridho terhadap kondisi tidak bahagia tadi yang sedang kita alami. 
 
Jika anda sedang ingin menuju melakukan sesuatu apapun itu, misal ketika anda sedang ibadah, atau ketika anda beraktivitas, bahkan ketika anda ingin menegakkan kebenaran, ataupun ingin membuang kebathilan, kalo yang muncul di hati anda “ya Allah, sebenarnya aku melakukannya demi meraih ridhoMu”. Maka saat anda berjalan, rasanya menjadi enteng, tidak ruwet duluan yang ada di hati dan pikiran.  
Orang berjuang, ya berjuang saja. Jangan ketika mau berjuang, sudah terbayang berbagai masalah, kendala dan jalan keluarnya yang dipikirkan sebegitu ruwetnya. 
Coba dikembalikan saja, “ya Allah, ini semua dalam rangka meraih ridhoMu”. Itu tiba-tiba ya enteng saja, karena dia tidak punya beban, misal mengenai apa kata orang karena mungkin dia jaga image. 
Sebenarnya satu-satunya yang membebani kita adalah kalo kita tidak diridhoi oleh Allah dalam perjalanan ini. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Ponpes Ciganjur GUSDUR, Jakarta Selatan | 17 Januari 2011 - video menit ke 07:10]

Friday, February 14, 2014

Menyampaikan TASAWUF Dengan Bijak

Wacana SUFI ke-60

Siapapun orangnya, jika anda melihat bahwa orang tersebut selalu menjawab apa saja yang ditanyakan, dan dia mengungkapkan apa saja yang dia ketahui serta saksikan, menunjukkan atas kebodohan orang tersebut.   
Misalnya semalam dia mendapatkan pengalaman ruhani tertentu, lantas mengungkapkannya kepada orang lain, itu bodoh namanya, kenapa ? karena di dalam Al-Qur’an disebutkan “ajaklah ke jalan Tuhanmu, dengan cara yang bijak”.  
Artinya kalo kita mengungkapkan apa saja yang anda ketahui kepada orang lain, itu namanya tidak bijak, karena kita tidak tahu apakah orang itu sudah waktunya perlu mengetahuinya atau belum. 
Jika pengetahuan di level mahasiswa, disampaikan kepada anak TK, berarti menunjukkan bahwa yang menyampaikan bodoh sekali, dan bukan anak TK-nya yang bodoh jika tidak dapat memahaminya.  
 
Menanggapi hal ini, ada satu orang bertanya, “apakah anda tidak tahu bahwa orang yang menyembunyikan pengetahuan bermanfaat, kelak di akherat akan dicambuk dengan cambuk api neraka?”. Berarti kalo kita mendiamkan pengetahuan yang berguna, bakal akan dihajar di hari kiamat.  
Kemudian pertanyaan tersebut dijawab, “sudahlah…. letakkan saja cambuk itu, dan pergilah. Kalo ada orang datang, yang berhak menerima ilmu tadi, akan saya berikan semuanya! kalo tidak, maka cambuklah aku!”. 
Inilah yang diperintahkan Allah swt, “katakan Muhammad, masing-masing umatmu itu mengamalkan menurut kemampuan di dalam jiwanya”. Maksud dari kemampuan didalam jiwa tersebut meliputi jiwa intelektualnya, jiwa qolbunya, jiwa ruhnya, jiwa sirr-nya, dimana masing-masing orang kemampuannya berbeda.  
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh mengatakan “sampaikan kepada manusia itu menurut pengetahuan mereka”. Oleh karena itu, para Sufi pun menyampaikan rahasia-rahasia ilahiyah tidak dengan “gebyah uyah”, tidak asal disampaikan begitu saja. 
Kadang disembunyikan dalam simbol-simbol syair yang indah, kadang  dibungkus dengan bahasa-bahasa rahasia, agar kelak ketika ada orang yang memang waktunya mengenal , akan mengenal dengan sendirinya.  
Apakah anda ingin justru mereka mendustai Allah dan RasulNya? 
Janganlah anda menyampaikan ajaran tasawuf kepada orang lain seperti ungkapan berikut, “yang penting saya sampaikan, percaya atau tidak percaya silahkan saja!”. Ini namanya kita yang bodoh. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' Baiturrohim, Beji Timur, Depok | 11 Februari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, February 11, 2014

Makrifah Billah

Wacana SUFI ke-59

Manakala Allah membuka perspektif makrifat kepadamu, tiba-tiba anda dibukakan pintu makrifat oleh Allah, janganlah engkau peduli bahwa amalmu masih sedikit. 
Allah membuka pintu makrifat kepada hambaNya tidak tergantung amaliyah, mujahadah, tazkiyah di dalam diri hamba, sebab makrifah itu prerogratifnya Allah. 
Yang memakrifatkan kita, bukanlah dari kita, tetapi Allah itu sendiri. Sebenarnya Allah yang mengenalkan diriNya, jadilah kita makrifah. Bukan pula kita mencari supaya kenal Allah, kemudian kita menemukan dan bisa mengenal Dia, tentunya bukan seperti itu. 
Semua proses ta’aruf, kemakrifatan dikarenakan oleh Allah itu sendiri, tidak tergantung sebab lainnya, misalnya “wah saya kemarin bermaksiat, apa bisa saya makrifat hari ini?”, atau sebaliknya “saya sudah lima tahun mujahadah, puasa, dzikir, tidak pernah berdosa, pasti saya bisa makrifat!”, sama sekali tidak seperti itu. 
Itu semua tidak ada hubungannya dengan amal kita. Makrifat adalah sebuah proses pengenalan dari Allah kepada kita, bukan kita kepada Allah, menurut caranya Allah baik itu proses, situasi, ataupun kondisinya. 
Seandainya makrifah dari kita, maka pasti kita bisa merencanakan “besok, minggu depan, makrifatku sekian…… bulan depan naik sekian…… tahun depan harus sudah sekian……”, padahal sebenarnya tidak bisa begitu. 
 
Dzat yang memerintahmu, yaitu yang akan memberi dan menampakkan sifat Qohhar-nya kepadamu. 
Kemakrifatan berupa pengenalan Allah pada hamba, merupakan bagian manifestasi dari sifat Qohhar-nya Allah, maunya Allah sendiri yang memaksa. Makrifah akan kapan terjadi, dimana, dalam kondisi apa, situasi kapan, atau usia berapa, semuanya Allah Yang Maha Qohhar. 
Makrifah tidak ada hubungannya dengan banyaknya amaliyah kita, kenapa demikian ? supaya kita tidak iktimad pada amal. Jika orang bisa menentukan kemakrifatannya, orang akan menjadi iktimad pada amal, dan akhirnya dia akan menentukan sendiri “amalku sekian, makrifatku sekian”. 
Supaya iktimad itu Billah, Allah pun mengenalkan dirinya kepada kita yang disebut Makrifah tersebut, sehingga makrifah itu billah, semua dari Allah dan kepada Allah. 
Termasuk misalkan kita diberi pengetahuan, perspektif cakrawala kemakrifatan, semuanya dari Allah dan hanya menuju Allah. Karena itu kita harus melaksanakan perintahNya, dan wajib pula kita menyerahkan pada sifat Qohhar-nya Allah. 
Contoh lain seperti khusyuk, bagaimana situasinya? itu adalah muhibbah ilahiyah, pemberian Allah, manusia tidak bisa merencanakan wujud khusyuknya, volumenya, kadarnya, kapan, dst. 
Semuanya, Allah juga yang menentukan! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' An Nuur, MODERN HILL, Pondok Cabe, Tangerang Selatan | 10 Februari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Monday, February 10, 2014

Nafsu Memaksa ALLAH Swt Mengikuti Seleranya

Wacana SUFI ke-58

Manusia memiliki kecenderungan untuk memasuki wilayah yang sudah dijamin Allah swt, dikarenakan adanya dorongan nafsunya. Nafsu kita kepingin memproyeksi supaya Allah swt mengikuti selera kita. 
Ada satu kisah dari kawan saya bernama Mohammad Sobari yang terkenal, suatu ketika datang kepada GUSDUR dan ceritanya mau laporan, “Gus, ini kita punya kawan, tidak mau sholat orangnya?” jawab GUSDUR sederhana saja “iya biarin aja, dia itu maunya Allah yang nyembah dia…..”. 
Kalimat tersebut dalam sekali, dan inikan gambaran umumnya manusia, maunya Allah yang mengikuti keinginan kita semua, seakan-akan kita yang menjadi Tuhan!. 
Lalu disitulah orang membuat timbangan-timbangan sendiri, “nanti kalo saya tahajud bisa istiqomah selama 2 tahun, pasti bisa merubah nasib. Namun ternyata nasib kok tidak ada perubahan ya?”.  
Akhirnya mulai kendor lagi tahajudnya, padahal tahajud itu lebih utama daripada perubahan nasib dia!. Ini mesti ditegaskan dalam tekad hidup kita di dunia ini. 
 
Menurut Syech Ibnu ‘Athaillah, “seriusmu terhadap hal-hal yang sudah dijamin oleh Allah dan anda sembrono terhadap hal-hal yang dituntut oleh Allah, menunjukkan butanya mata hatimu “. 
Manusia banyak sekali serius terhadap hal-hal yang sudah dijamin Allah Swt, padahal itu bisa membuat kabur mata hatinya, dan ini merupakan salah satu wujud keanehan dari manusia.
Manusia inginnya menentukan jaminan-jaminan, misalnya soal pahala. Manusia sering membayangkan pahala, terlebih membayangkan surga dan seisinya. Padahal apapun yang kita bayangkan, besok di akherat tidak sama sekali seperti yang pernah kita bayangkan akan terjadi seperti itu. 
Sehebat-hebat apapun bayangan kita tentang surga, pasti wujudnya surga tidak seperti yang anda bayangkan, karena itu tidak usah dibayangkan, bagaimana rasanya? juga tidak perlu dibayangkan. 
Contoh lain, anda ingin membayangkan tentang bidadari, besok di akherat bakal tidak seperti yang anda bayangkan, karena itu tidak usah melamun bidadari. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' AL ISTIQOMAH, Jl. Merdeka Raya, Belakang SAMSAT, Depok 2 Tengah | 7 Februari 2014 - video menit ke 39:20]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, February 4, 2014

Mengamalkan Menurut Kemampuan

Wacana SUFI ke-54

Ada sahabat Nabi Saw yang melakukan shalat tahajud sampai pagi, dan memakai tali di badannya supaya bisa tegak terus beribadah, Rasulullah mengetahuinya dan mengatakan “Jangan!  saya juga Nabi, perlu tidur, juga shalat malam, makan, puasa, dsb”. Hal ini supaya sahabat tersebut tidak memaksa diri berlebihan, walaupun dalam soal ibadah. 
Tetapi ada sahabat-sahabat yang diperintahkan oleh Beliau, “kamu tidurnya sedikit saja, banyak terjaga di malam hari, banyak ingat kepada Allah”. Terus bagaimana bisa seperti bertolak belakang? itulah Rasulullah saw, seperti yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya, “katakanlah Muhammad, masing-masing mengamalkan menurut kemampuan”. 
Rasulullah Saw tahu, jika ada sahabat yang diperintahkan tetap terjaga ibadah malam hari, dia akan memaksa diri, nantinya mengeluh, tidak ikhlas, tidak bisa ridho, tidak pasrah, tidak bisa syukur saat ibadah. Sedangkan ada sahabat yang memang diperintahkan harus melakukan hal tersebut. 
Dulu saya punya seorang sahabat, dia mempunyai seorang teman yang dekat dengan almaghfurlah Mbah Yai Syech Abdul Djalil. Seringkali setiap malam orang tersebut diajak ngobrol oleh Mbah Yai, suatu ketika dia protes, “Pak Yai, saya ini bermajlis, bergaul dengan panjenengan, sama sekali tidak pernah dikasih dzikir dan wiridan, tidak seperti orang-orang banyak itu yang dikasih wirid”. 
Jawabnya Pak Kyai sederhana, “kamu kalo saya kasih, tetap tidak bakal kamu amalkan”, karena sebenarnya pak Kyai memang mengerti, ruang yang ada di dalam jiwanya. 
Ada lagi cerita dua orang Kyai, dulunya belajar bersama di pesantren dan tinggal dalam satu kamar. Begitu keluar, masing-masing menjadi Kyai, satu di jawa timur, dan satunya lagi di jawa tengah. Saat baiat bersamaan waktunya, Kyai yang satu di jawa timur harus mengamalkan wirid seperti aturannya, sedangkan Kyai yang satunya di jawa tengah tidak perlu wiridan seperti aturannya, hal ini karena Mursyid mengetahui ruang dan syakilah di dalam jiwanya. 
Oleh sebab itu, di dalam tradisi Thoriqoh pun menjadi kurang beradab, kalo kita mengajukan diri, “Pak Kyai, bagaimana kalo saya diberi wiridan yang begini, begini, begini….saya minta hizb ini, ini, ini…”. 
Meskipun dia akan tetap diberi oleh Pak Kyai, tetapi biasanya membuat dia menjadi kelimpungan, tidak bisa istiqomah. Berbeda seandainya menurut petunjuk Pak Kyai “ya sudah kamu amalkan ini saja”, biasanya justru bisa istiqomah. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid GUSDUR Ciganjur, Jakarta Selatan | 3 Februari 2014 - video menit ke 16:40]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Friday, January 31, 2014

Menghindari Menerjemahkan Perintah dan LaranganNya

Wacana SUFI ke-51

" Banyak para SUFI bermunajat ingin menghindari untuk menakwili dan menerjemahkan sebuah perintah ataupun sebuah larangan yang datangnya dari Allah swt. 
Misalnya dalam hal perintah shalat, Allah swt memerintahkan "tegakkanlah shalat", kemudian mereka meresponnya "baiklah, kalo begitu aku harus shalat dengan benar, hatiku juga harus benar pula".

Mereka menghindari untuk menakwilkan kenapa Allah memerintahkan aku shalat? hal seperti itu justru dihindari, sebab nanti rahmat dan fadhol Allah swt dibalik shalat akhirnya menjadi terbatas. 
Apa yang dimaksud 'terbatas' itu ? yaitu terbatas menurut takwil kita, padahal anugerah Allah di balik shalat itu tak terhingga. 
Akibat kita mencoba mengurai alasannya kenapa Tuhan memerintahkan kita shalat, hingga uraiannya menjadi buku yang bertumpuk-tumpuk, akhirnya anugerah yang kita dapatkan hanya sebatas dan sebanyak itu saja. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 22 Januari 2014 - video menit ke 10:00]

Monday, January 27, 2014

Pahala Hanya Dipetik Kelak Di Akherat


Wacana SUFI ke-47

" Amaliyah itu bentuk balasanya seperti apa ya ? dan kapan diberikannya ?
Balasan dari amaliyah sebenarnya wujud nyatanya tidak akan pernah bisa kita lihat di alam nyata sekarang yaitu di dunia ini. 
Oleh sebab itu, kita jangan memiliki pemikiran misalnya sehabis beribadah atau berbuat baik lainnya, kemudian berangan-angan, "Tuhan mana pahalanya ? saya khan sudah lama berbuat baik!" 
Balasan berupa pahala itu hanya kita petik kelak di akherat. 
Namun seandainya ada seorang manusia ketika melakukan amal ibadah ukhrowiyah, kemudian dia meminta ganti rugi kepada Allah berupa keuntungan-keuntungan duniawiyah, itupun oleh Allah akan tetap diberi, tapi kelak di akherat dia bakal tidak mendapatkan apa-apa! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 4 Des 2013 - video menit ke 00:00]

Sunday, January 26, 2014

Nuur Harus Membuahkan Amaliyah



Wacana SUFI ke-46

" Kadar cahaya di dalam hati dan di hakekatnya hati -sirr-, tidak akan pernah diketahui seberapa besar kadarnya, kecuali di alam malakut yang tersembunyi dan ghoib. 
Apa yang dimaksud cahaya hati dan rahasia hati ? yaitu kesadaran-kesadaran terbukanya gerbang makrifatullah dan pengetahuan-pengetahuan kebenaran yang hakiki, ini disebut nuur yang memancar di dalam hati kita. 
Maksudnya alam malakut yaitu sebuah alam yang tersembunyi dari logika-logika. Kita tidak bisa melogikakan nuur itu seperti apa ? itu pasti tidak bisa. Harus dipahami bahwa sebuah kesadaran itu tidak logis, kalo pun ada logikanya, tentu logika di alam malakut itu sendiri. 
Orang begitu rindu luar biasa kepada Allah, ini logikanya seperti apa ya ? tentunya tidak bisa dilogikakan, hanya bisa dirasakan! sebagaimana cahaya-cahaya yang memantul di cakrawala, hanya bisa dilihat di alam nyata ini. 
Oleh karena itu yang sangat penting adalah bagaimana cahaya tersebut dapat membuahkan amaliah! Amaliyah itulah sebagai perwujudan dari munculnya nuur tadi.
Jadi gradasinya seperti berikut: 
1. Nuur melimpah di alam qolbu dan alam rahasia qolbu. 
2. Kemudian bergeraklah menjadi perwujudan yang namanya amaliah, dan yang sedang mengalir di hati kita namanya ahwaliyah. Sehingga ada istilah akmaliyah dan ada ahwaliyah. 
Ahwaliyah itu amaliyah Bathin, sedangkan Akmaliyah itu amaliyah Lahiriyah. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 4 Des 2013 - video menit ke 00:00]