Showing posts with label Twit. Show all posts
Showing posts with label Twit. Show all posts

Thursday, April 3, 2014

Hati bekerja dengan Allah


Wacana SUFI ke-72

Kalo tiba-tiba makhluk pun mulai tidak cinta pada anda. Contoh paling sederhana, anda putus cinta, karena diputus oleh pacar. Maka bergembiralah, itu cara Allah menolong anda. Kenapa ? Allah pelan-pelan membukakan cinta itu hanya padaNYA. Kebahagiaan cinta sejati, hanyalah padaNYA, bukan pada makhluk. 
Makanya di AlQur’an disebutkan, “orang-orang yang tidak dilalaikan dirinya oleh aktivitas bisnis, dari berdzikir pada Allah”. (QS. An-Nuur: 37)
Jangan sampai aktivitas kerja kita itu, melalaikan hubungan hati kita dengan Allah. Urusan kerja dengan dunia cukuplah urusan tangan, pikiran, mata, telinga, hidung, indera, kaki atau aktivitas fisik lainnya. 
Lha, bagaimana dengan hati kita ? hati bekerja dengan Allah, dengan sepenuh cinta kepada Allah. Itulah cara kita memandang.

Link Download Rekaman Audio Mp3

Kalo hati kita bekerja dengan Allah, maka akan menumbuhkan Nur, cahaya yang menerangi dunia. Termasuk dunia kerja kita. 
Lalu apa yang terjadi ? bukan kemudian, “oh, saya mau berdzikir, supaya pekerjaan saya lancar”, jika demikian kita tadi berdzikir bukan pada Allah, tetapi sebenarnya pada pekerjaan, jadinya memanfaatkan Tuhan.  
Anda boleh berdoa, tapi jangan sampai menimbang dunia dengan dzikir, menimbang dunia dengan ibadah, menimbang dunia dengan kabajikan kemuliaan akherat. 
Terlalu kecil jika dunia ditimbang dengan akherat, sama sekali tidak seimbang. Makanya kalo kita berbuat baik, ya lillahita’ala saja, tidak usah dihubung-hubungkan dengan duniawi.  
Tetapi anda boleh berdoa untuk kepentingan dunia anda, justru bagus, supaya ditolong oleh Allah dunia anda. Kalo dunia anda ditolong oleh Allah, dunia ini tidak akan menguasai anda, tetapi anda yang bisa menguasai.  
Bagaimana cara menguasai dunia ini ? yaitu jika nafsu kita tidak terlibat di dalam proses-proses duniawi tadi. Kalo nafsu kita terlibat, kita kembali lagi dikuasai oleh dunia. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 2 April 2014 - rekaman menit ke 28:20]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Friday, March 14, 2014

Jangan Putus Asa Bertobat

Wacana SUFI ke-69

" Orang yang tobat justru beruntung, dan sebaliknya yang tidak mau tobat tentu rugi. 
Dan jangan sampai kita putus asa, seperti ungkapan berikut “sampai kapan ya aku bertobat ini ? dan aku akan mengulang lagi dosaku, aku tidak bakal diampuni”.
 
Orang sakit saja sepanjang masih ada nyawanya, masih tetap berharap hidup. Kenapa orang itu ingin tobat ? karena dia ingin masih hidup hatinya, ingin hatinya kembali kepada Allah, harapannya seperti orang yang sakit tadi. 
Sebenarnya orang yang berdosa, ini kan seperti orang yang sakit. Dia sakit seberat apapun, tetap berharap sembuh dan hidup. 
Orang yang maksiat sebenarnya tetap memiliki harapan ingin bertobat. Tetapi karena sudah bertumpuk-tumpuk keputus-asaannya atas maksiat yang dilakukan, lalu dia benar-benar menjadi putus asa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 12 Maret 2014 - video menit ke 07:00]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Thursday, March 13, 2014

Tidak Peduli dengan Bahagia dan Derita

Wacana SUFI ke-68

Dalam proses perjalanan ini, kadang-kadang rasanya kita tercekam dengan berbagai takdir, yang menurut kita sangat tidak enak. Dunia rasanya sempit sekali. Menengok sedikit rasanya sudah dihantam sesuatu.  
Itulah suasana ketika Allah menggenggam dalam keadaan mencekam hingga membuat dia sudah tidak bisa berkutik. “Ampun Ya Allah… ampun……. ampun….”, kira-kira seperti itu saja yang dapat dia lakukan. 
Kenapa Allah itu tidak menakdirkan yang enak-enak saja, tetapi diberi cobaan dan kesedihan ? agar anda jangan sampai merasa bersama Allah, hanya ketika dalam suasana tidak tercekam atau enak saja.  
Ketika nanti diberi peluang serba enak, rasanya bersama Allah. Tetapi ketika diberi cobaan, rasanya tidak bersama Allah. Maksudnya biar dia tidak berlaku seperti itu. 
Allah ketika membukakan peluang-peluang, kemudahan, enak, nyaman, indah, bahagia, supaya anda full tidak membiarkan bersama Allah hanya dalam kondisi tercekam. 
Kadang-kadang manusia ini, ketika diberi nikmat, dia benar-benar bisa beribadah. Tetapi ketika diberi penderitaan, dia tidak bisa beribadah, ibadahnya mulai tidak khusyuk.  
Kadang-kadang juga sebaliknya diberi penderitaan, dia beribadah sangat tekun, sedangkan diberi kebahagiaan dia lupa kepada Allah. Nah, karena itu oleh Allah dibikin fluktuatif sekalian -naik turun-, biar terlatih mental hati kita menghadapi kehidupan ini, supaya istiqomah bersama Allah.  
Kadang-kadang Allah mengeluarkan dari suasana baik mencekam maupun bahagia, artinya seorang hamba sudah tidak peduli dengan bahagia dan derita. Diberi enak juga rasanya bersama Allah, diberi tidak enak rasanya juga tetap bersama Allah.  
Kenapa Allah mengeluarkan orang tersebut dari kedua suasana seperti itu ? supaya seseorang tidak lagi memikir yang lain, tidak konsentrasi yang lain, kecuali hanya dengan Allah saja! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Baiturrohim, Beji Timur, Depok | 11 Maret 2014 - video menit ke 24:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Saturday, March 8, 2014

Perbuatan yang lebih besar dosanya

Wacana SUFI ke-67

Merencanakan maksiat itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya. 
Disebutkan oleh Syaikh Zarruq ada 5 hal perbuatan diluar dosa tapi lebih besar daripada dosanya.

  1. Orang yg semangat ketika mau maksiat. Semangat bermaksiat itu lebih besar dosanya dibanding maksiatnya.
  2. Membiayai maksiat. “apa kamu mau maksiat ? saya kasih duit padamu untuk bermaksiat”. Orang yang membiayai itu lebih besar dosanya daripada perbuatan dosanya. 
  3. Mendukung kemaksiatan. Ada tindakan maksiat justru didukung. Dukungan itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya.
  4. Menyepelekan atau meremehkan dosa. “ah kecil itu berdosa, Tuhan lebih besar ampunanNya”. Menyepelekan itu lebih besar daripada dosanya.
  5. Terus menerus berdosa. Habis berdosa, terus bertobat, setelah itu berdosa lagi. Wah pokoknya berdosa sudah sampai menjadi hobi. Hobi berdosa itu lebih besar dosanya dibanding tindakan dosa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA | 5 Maret 2014 - video menit ke 16:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Friday, February 21, 2014

Wilayah Ijtihad dan Non-Ijtihad

Wacana SUFI ke-64

Wilayah syariat adalah wilayah ijtihad, wilayahnya manusia untuk berfikir. Hukum syariat mulai zaman abad pertengahan dahulu hingga sekarang selalu mengikuti perubahan, artinya ditafsirkan sesuai dengan zaman.  
Zaman sekarang supaya bisa mengikuti aturan ilahiyah itu bagaimana ya ? akhirnya itulah yang dinamakan wilayah ijtihad. Jadi ijtihad itu memang ada, taqlid pun juga ada.  
Taatlah pada Allah, kalo secara syariat berarti taatlah pada sumber Al-Qur’an. Taatlah kepada Rasul, sumbernya dari hadis. Dan taatlah kepada Ulil Amri, di wilayah syariat yang dimaksud ulil amri adalah mujtahid.  
Kalo anda menemui permasalahan sebuah pertentangan hukum, apakah hukumnya halal atau haram ? maka kembalilah kepada Allah dan Rasul, maksudnya dikonfirmasi lagi dengan isi di dalam Al-Qur’an, apakah ada atau tidak ? terus di dalam Hadis, apakah ada atau tidak ? ketika konfirmasi dilakukan, muncul lah yang namanya qiyas, kaidah-kaidah fiqiyah, dan tujuan utama syariat. 
Rujukan berdasarkan tujuan utama syariat, contohnya pada masa Sayyidina Umar bin Khatab Ra, pada saat beliau mengambil keputusan, yang ketika itu dianggap oleh sahabat yang lain sangat kontroversial. 
Ada seorang pencuri yang ditangkap, tetapi oleh Sayyidina Umar bin Khatab Ra tidak dipotong tangannya, hal inilah yang membuat para sahabat yang lain mempertanyakan keputusannya. 
Para Sahabat :  “lho, kenapa ? padahal ayatnya sudah jelas harus dipotong tangannya”
Sayyidina Umar bin Khatab Ra : “kita tanya dulu, dia mencuri karena apa?”
Kemudian pencurinya ditanya, “Hai Pencuri, kamu mencuri karena apa?” 
Pencuri : “saya kelaparan tidak bisa makan tuan Khalifah. Saya tidak punya makanan dan akhirnya mencuri untuk makan”. 
Sayyidina Umar bin Khatab Ra balik bertanya ke para sahabat : “menurut kalian sebenarnya hukum syariah ditegakkan untuk apa sih ?” 
Para Sahabat : “Ya untuk menciptakan keadilan” 
Sayyidina Umar bin Khatab Ra : “apakah adil saya memotong tangan pencuri yang mencuri karena kelaparan?” 
Para Sahabat : “Ya tidak adil” 
Sayyidina Umar bin Khatab Ra : “Ya sudah, karena itu tidak usah dipotong tangannya” 
Inilah yang dinamakan tujuan utama perintah Allah itu untuk apa ? maka dari itu ada wilayah-wilayah ijtihadiyah. Sedangkan wilayah non ijtihad seperti apa ? yaitu Iman yang berada di wilayah Qolbu. 
Misal bahwa Allah itu Esa, tidak ada itu wilayah ijtihad. Tidak ada satupun orang yang akan mempertanyakan Ke-MAHA ESA-an Allah Swt. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' AL ISTIQOMAH, Depok2 Tengah | 7 Februari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Thursday, February 20, 2014

TAKDIR Menurut Syariat Hakikat

Wacana SUFI ke-63

Memahami takdir secara syariat dan hakikat. 
Secara syariat bahwa apa yang kita usahakan selama ini akan dapat merubah sesuatu, sehingga kemudian Allah swt akan mengabulkan untuk merubahnya. Sedangkan secara hakikat bahwa semua yang terjadi, dapat berubah atau tidak berubah semuanya kehendak Allah swt.    
Menurut syariat atau akal pikirian bahwa apapun itu kalo 'baik' pasti datangnya dari Allah swt, kalo 'buruk' pasti datangnya dari nafsu kita. Tetapi berbeda jika menurut hati atau hakikat, bahwa 'baik' atau 'buruk' semuanya ditentukan Allah swt.  
--padahal yang disebut 'baik' itu belum tentu enak lho ya! yang benar maksudnya 'baik' adalah seluruh proses sampai gol berada dalam koridor kebajikan.-- 
Takdir oleh Rasulullah saw diposisikan di dalam Rukun Iman yang letaknya di wilayah qolbu atau wilayah hakikat, bukan di dalam Rukun Islam yang sering disebut wilayah syar’i/syariat. Dan hakikat itu tidak sekedar dipahami saja, tetapi harus diwujudkan dan dipraktekkan.  
Karena takdir di wilayah qolbu, maka hati kita lah yang seharusnya akan mengatakan takdir baik atau takdir buruk, takdir enak atau takdir tidak enak.  
Hal ini seperti di terangkan dalam Al-Quran, “Allah menentukan segala-galanya”. 
Kemudian ada orang yang beranggapan, “wah, kalo begitu saya mau marencanakan keburukan saja, karena semua dari Allah”, nah yang bicara seperti ini adalah akal pikiran, bukan dari hatinya. 
Jadi hati itu tidak akan pernah merekayasa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' AL ISTIQOMAH, Depok2 Tengah | 7 Februari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, February 18, 2014

Ingin Surga Dunia Harus Ridho

Wacana SUFI ke-62

Ada orang yang sudah berusaha dan melakukan amaliyah apapun, tapi sering tidak merasakan bahagia, sebenarnya mana yang disebut bahagia itu ? ini adalah kalimat yang menjebak.  
Sebenarnya di dunia ini bukan tempatnya bahagia, juga bukan tempatnya senang. Bahagia dan senang hanyalah sesuatu sepintas lewat saja. Justru ketika kita ridho, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. 
Surga itu isinya kebahagiaan. Jadi kalo ingin merasakan surga di dunia, harus ridho!. Ridho itu pintu Allah yang paling agung dan surga dunia. Termasuk ridho terhadap kondisi tidak bahagia tadi yang sedang kita alami. 
 
Jika anda sedang ingin menuju melakukan sesuatu apapun itu, misal ketika anda sedang ibadah, atau ketika anda beraktivitas, bahkan ketika anda ingin menegakkan kebenaran, ataupun ingin membuang kebathilan, kalo yang muncul di hati anda “ya Allah, sebenarnya aku melakukannya demi meraih ridhoMu”. Maka saat anda berjalan, rasanya menjadi enteng, tidak ruwet duluan yang ada di hati dan pikiran.  
Orang berjuang, ya berjuang saja. Jangan ketika mau berjuang, sudah terbayang berbagai masalah, kendala dan jalan keluarnya yang dipikirkan sebegitu ruwetnya. 
Coba dikembalikan saja, “ya Allah, ini semua dalam rangka meraih ridhoMu”. Itu tiba-tiba ya enteng saja, karena dia tidak punya beban, misal mengenai apa kata orang karena mungkin dia jaga image. 
Sebenarnya satu-satunya yang membebani kita adalah kalo kita tidak diridhoi oleh Allah dalam perjalanan ini. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Ponpes Ciganjur GUSDUR, Jakarta Selatan | 17 Januari 2011 - video menit ke 07:10]

Monday, February 17, 2014

Pasrahnya Kepada Allah Tidak Bernilai

Wacana SUFI ke-61

Banyak orang berbisnis memiliki pemikiran ketika dia pasrah kepada Allah, bisnisnya akan menuai sukses. 
Apakah ketika kita pasrah kepada Allah niatnya supaya sukses ? kalo benar pasrah kita kepada Allah niatnya sukses, pasrah kita tidak akan mendapat apa-apa. Bakal tidak mendapatkan pahala dan tidak ada nilainya sama sekali di hadapan Allah, karena pasrahnya supaya sukses.  
Ada cerita dari seorang kawan yang sedang bisnis jual-beli otomotif, dinasehati oleh temannya “kamu kalo bisnis jangan serakah. Pokoknya nanti kalo sudah dapat laba sedikit, jual saja. Tidak usah menunggu mendapat laba banyak. Keinginan menunggu laba banyak itu sudah serakah”. 
Akhirnya nasehat tersebut dijalankan, begitu dijalani benar terjadi, setiap dia beli mobil misal dengan harga 70jt, maksud rencananya begitu ada pembeli menawar dengan harga 72jt, bakal dia kasihkan. Tidak tahunya ada orang yang mau membeli sampai dengan harga 90jt. Lha, gara-gara saya tidak serakah ini, langsung mendapat laba banyak. 
Apa yang terjadi ? ini juga nilai cobaan muncul. Lantas dia berpikir “kalo begitu saya tidak serakah saja, supaya dapat laba banyak”, lha ini khan serakah juga. 
 
Perjalanan hati ini lembut sekali, kelihatannya sudah benar, tiba-tiba ternyata masih kepleset juga. Harus hati-hati. Makanya sebaiknya tidak perlu dipikir. 
Cukup Allah saja. Senang itu juga datang dari Allah. Tidak suka juga dari Allah. Ridho saja berjalan menuju Allah. 
Ada tikungan-tikungan yang sangat mengejutkan, ketika kita mulai tancap gas dan ngebut. Barangkali pernah hati kita berkata "wah asyik ini, benar Allah, saya mulai tawakal". Tiba-tiba muncul tikungan, sehingga membuat kita terjungkal kepleset. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Ponpes Ciganjur GUSDUR, Jakarta Selatan | 17 Januari 2011 - video menit ke 04:00]

Friday, February 14, 2014

Menyampaikan TASAWUF Dengan Bijak

Wacana SUFI ke-60

Siapapun orangnya, jika anda melihat bahwa orang tersebut selalu menjawab apa saja yang ditanyakan, dan dia mengungkapkan apa saja yang dia ketahui serta saksikan, menunjukkan atas kebodohan orang tersebut.   
Misalnya semalam dia mendapatkan pengalaman ruhani tertentu, lantas mengungkapkannya kepada orang lain, itu bodoh namanya, kenapa ? karena di dalam Al-Qur’an disebutkan “ajaklah ke jalan Tuhanmu, dengan cara yang bijak”.  
Artinya kalo kita mengungkapkan apa saja yang anda ketahui kepada orang lain, itu namanya tidak bijak, karena kita tidak tahu apakah orang itu sudah waktunya perlu mengetahuinya atau belum. 
Jika pengetahuan di level mahasiswa, disampaikan kepada anak TK, berarti menunjukkan bahwa yang menyampaikan bodoh sekali, dan bukan anak TK-nya yang bodoh jika tidak dapat memahaminya.  
 
Menanggapi hal ini, ada satu orang bertanya, “apakah anda tidak tahu bahwa orang yang menyembunyikan pengetahuan bermanfaat, kelak di akherat akan dicambuk dengan cambuk api neraka?”. Berarti kalo kita mendiamkan pengetahuan yang berguna, bakal akan dihajar di hari kiamat.  
Kemudian pertanyaan tersebut dijawab, “sudahlah…. letakkan saja cambuk itu, dan pergilah. Kalo ada orang datang, yang berhak menerima ilmu tadi, akan saya berikan semuanya! kalo tidak, maka cambuklah aku!”. 
Inilah yang diperintahkan Allah swt, “katakan Muhammad, masing-masing umatmu itu mengamalkan menurut kemampuan di dalam jiwanya”. Maksud dari kemampuan didalam jiwa tersebut meliputi jiwa intelektualnya, jiwa qolbunya, jiwa ruhnya, jiwa sirr-nya, dimana masing-masing orang kemampuannya berbeda.  
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh mengatakan “sampaikan kepada manusia itu menurut pengetahuan mereka”. Oleh karena itu, para Sufi pun menyampaikan rahasia-rahasia ilahiyah tidak dengan “gebyah uyah”, tidak asal disampaikan begitu saja. 
Kadang disembunyikan dalam simbol-simbol syair yang indah, kadang  dibungkus dengan bahasa-bahasa rahasia, agar kelak ketika ada orang yang memang waktunya mengenal , akan mengenal dengan sendirinya.  
Apakah anda ingin justru mereka mendustai Allah dan RasulNya? 
Janganlah anda menyampaikan ajaran tasawuf kepada orang lain seperti ungkapan berikut, “yang penting saya sampaikan, percaya atau tidak percaya silahkan saja!”. Ini namanya kita yang bodoh. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' Baiturrohim, Beji Timur, Depok | 11 Februari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, February 11, 2014

Makrifah Billah

Wacana SUFI ke-59

Manakala Allah membuka perspektif makrifat kepadamu, tiba-tiba anda dibukakan pintu makrifat oleh Allah, janganlah engkau peduli bahwa amalmu masih sedikit. 
Allah membuka pintu makrifat kepada hambaNya tidak tergantung amaliyah, mujahadah, tazkiyah di dalam diri hamba, sebab makrifah itu prerogratifnya Allah. 
Yang memakrifatkan kita, bukanlah dari kita, tetapi Allah itu sendiri. Sebenarnya Allah yang mengenalkan diriNya, jadilah kita makrifah. Bukan pula kita mencari supaya kenal Allah, kemudian kita menemukan dan bisa mengenal Dia, tentunya bukan seperti itu. 
Semua proses ta’aruf, kemakrifatan dikarenakan oleh Allah itu sendiri, tidak tergantung sebab lainnya, misalnya “wah saya kemarin bermaksiat, apa bisa saya makrifat hari ini?”, atau sebaliknya “saya sudah lima tahun mujahadah, puasa, dzikir, tidak pernah berdosa, pasti saya bisa makrifat!”, sama sekali tidak seperti itu. 
Itu semua tidak ada hubungannya dengan amal kita. Makrifat adalah sebuah proses pengenalan dari Allah kepada kita, bukan kita kepada Allah, menurut caranya Allah baik itu proses, situasi, ataupun kondisinya. 
Seandainya makrifah dari kita, maka pasti kita bisa merencanakan “besok, minggu depan, makrifatku sekian…… bulan depan naik sekian…… tahun depan harus sudah sekian……”, padahal sebenarnya tidak bisa begitu. 
 
Dzat yang memerintahmu, yaitu yang akan memberi dan menampakkan sifat Qohhar-nya kepadamu. 
Kemakrifatan berupa pengenalan Allah pada hamba, merupakan bagian manifestasi dari sifat Qohhar-nya Allah, maunya Allah sendiri yang memaksa. Makrifah akan kapan terjadi, dimana, dalam kondisi apa, situasi kapan, atau usia berapa, semuanya Allah Yang Maha Qohhar. 
Makrifah tidak ada hubungannya dengan banyaknya amaliyah kita, kenapa demikian ? supaya kita tidak iktimad pada amal. Jika orang bisa menentukan kemakrifatannya, orang akan menjadi iktimad pada amal, dan akhirnya dia akan menentukan sendiri “amalku sekian, makrifatku sekian”. 
Supaya iktimad itu Billah, Allah pun mengenalkan dirinya kepada kita yang disebut Makrifah tersebut, sehingga makrifah itu billah, semua dari Allah dan kepada Allah. 
Termasuk misalkan kita diberi pengetahuan, perspektif cakrawala kemakrifatan, semuanya dari Allah dan hanya menuju Allah. Karena itu kita harus melaksanakan perintahNya, dan wajib pula kita menyerahkan pada sifat Qohhar-nya Allah. 
Contoh lain seperti khusyuk, bagaimana situasinya? itu adalah muhibbah ilahiyah, pemberian Allah, manusia tidak bisa merencanakan wujud khusyuknya, volumenya, kadarnya, kapan, dst. 
Semuanya, Allah juga yang menentukan! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' An Nuur, MODERN HILL, Pondok Cabe, Tangerang Selatan | 10 Februari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Monday, February 10, 2014

Nafsu Memaksa ALLAH Swt Mengikuti Seleranya

Wacana SUFI ke-58

Manusia memiliki kecenderungan untuk memasuki wilayah yang sudah dijamin Allah swt, dikarenakan adanya dorongan nafsunya. Nafsu kita kepingin memproyeksi supaya Allah swt mengikuti selera kita. 
Ada satu kisah dari kawan saya bernama Mohammad Sobari yang terkenal, suatu ketika datang kepada GUSDUR dan ceritanya mau laporan, “Gus, ini kita punya kawan, tidak mau sholat orangnya?” jawab GUSDUR sederhana saja “iya biarin aja, dia itu maunya Allah yang nyembah dia…..”. 
Kalimat tersebut dalam sekali, dan inikan gambaran umumnya manusia, maunya Allah yang mengikuti keinginan kita semua, seakan-akan kita yang menjadi Tuhan!. 
Lalu disitulah orang membuat timbangan-timbangan sendiri, “nanti kalo saya tahajud bisa istiqomah selama 2 tahun, pasti bisa merubah nasib. Namun ternyata nasib kok tidak ada perubahan ya?”.  
Akhirnya mulai kendor lagi tahajudnya, padahal tahajud itu lebih utama daripada perubahan nasib dia!. Ini mesti ditegaskan dalam tekad hidup kita di dunia ini. 
 
Menurut Syech Ibnu ‘Athaillah, “seriusmu terhadap hal-hal yang sudah dijamin oleh Allah dan anda sembrono terhadap hal-hal yang dituntut oleh Allah, menunjukkan butanya mata hatimu “. 
Manusia banyak sekali serius terhadap hal-hal yang sudah dijamin Allah Swt, padahal itu bisa membuat kabur mata hatinya, dan ini merupakan salah satu wujud keanehan dari manusia.
Manusia inginnya menentukan jaminan-jaminan, misalnya soal pahala. Manusia sering membayangkan pahala, terlebih membayangkan surga dan seisinya. Padahal apapun yang kita bayangkan, besok di akherat tidak sama sekali seperti yang pernah kita bayangkan akan terjadi seperti itu. 
Sehebat-hebat apapun bayangan kita tentang surga, pasti wujudnya surga tidak seperti yang anda bayangkan, karena itu tidak usah dibayangkan, bagaimana rasanya? juga tidak perlu dibayangkan. 
Contoh lain, anda ingin membayangkan tentang bidadari, besok di akherat bakal tidak seperti yang anda bayangkan, karena itu tidak usah melamun bidadari. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' AL ISTIQOMAH, Jl. Merdeka Raya, Belakang SAMSAT, Depok 2 Tengah | 7 Februari 2014 - video menit ke 39:20]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, February 4, 2014

Mengamalkan Menurut Kemampuan

Wacana SUFI ke-54

Ada sahabat Nabi Saw yang melakukan shalat tahajud sampai pagi, dan memakai tali di badannya supaya bisa tegak terus beribadah, Rasulullah mengetahuinya dan mengatakan “Jangan!  saya juga Nabi, perlu tidur, juga shalat malam, makan, puasa, dsb”. Hal ini supaya sahabat tersebut tidak memaksa diri berlebihan, walaupun dalam soal ibadah. 
Tetapi ada sahabat-sahabat yang diperintahkan oleh Beliau, “kamu tidurnya sedikit saja, banyak terjaga di malam hari, banyak ingat kepada Allah”. Terus bagaimana bisa seperti bertolak belakang? itulah Rasulullah saw, seperti yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya, “katakanlah Muhammad, masing-masing mengamalkan menurut kemampuan”. 
Rasulullah Saw tahu, jika ada sahabat yang diperintahkan tetap terjaga ibadah malam hari, dia akan memaksa diri, nantinya mengeluh, tidak ikhlas, tidak bisa ridho, tidak pasrah, tidak bisa syukur saat ibadah. Sedangkan ada sahabat yang memang diperintahkan harus melakukan hal tersebut. 
Dulu saya punya seorang sahabat, dia mempunyai seorang teman yang dekat dengan almaghfurlah Mbah Yai Syech Abdul Djalil. Seringkali setiap malam orang tersebut diajak ngobrol oleh Mbah Yai, suatu ketika dia protes, “Pak Yai, saya ini bermajlis, bergaul dengan panjenengan, sama sekali tidak pernah dikasih dzikir dan wiridan, tidak seperti orang-orang banyak itu yang dikasih wirid”. 
Jawabnya Pak Kyai sederhana, “kamu kalo saya kasih, tetap tidak bakal kamu amalkan”, karena sebenarnya pak Kyai memang mengerti, ruang yang ada di dalam jiwanya. 
Ada lagi cerita dua orang Kyai, dulunya belajar bersama di pesantren dan tinggal dalam satu kamar. Begitu keluar, masing-masing menjadi Kyai, satu di jawa timur, dan satunya lagi di jawa tengah. Saat baiat bersamaan waktunya, Kyai yang satu di jawa timur harus mengamalkan wirid seperti aturannya, sedangkan Kyai yang satunya di jawa tengah tidak perlu wiridan seperti aturannya, hal ini karena Mursyid mengetahui ruang dan syakilah di dalam jiwanya. 
Oleh sebab itu, di dalam tradisi Thoriqoh pun menjadi kurang beradab, kalo kita mengajukan diri, “Pak Kyai, bagaimana kalo saya diberi wiridan yang begini, begini, begini….saya minta hizb ini, ini, ini…”. 
Meskipun dia akan tetap diberi oleh Pak Kyai, tetapi biasanya membuat dia menjadi kelimpungan, tidak bisa istiqomah. Berbeda seandainya menurut petunjuk Pak Kyai “ya sudah kamu amalkan ini saja”, biasanya justru bisa istiqomah. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid GUSDUR Ciganjur, Jakarta Selatan | 3 Februari 2014 - video menit ke 16:40]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Sunday, February 2, 2014

Hati-hati Jika Berdoa Cepat Terkabulkan


Wacana SUFI ke-53

" Dahulu ada cerita orang soleh dan ahli maksiat yang sama-sama berdoa. Kalo orang ahli maksiat berdoa langsung diijabah, sedangkan orang soleh bertahun-tahun berdoa tidak kunjung diijabah oleh Allah swt, hal ini membuat malaikat protes.
Allah mengatakan cepat-cepatlah tunaikan hajatnya orang ahli maksiat ini, kemudian para malaikat protes, "kenapa Tuhan dipercepat?", kata Allah "Aku tidak suka mendengar suara doanya orang ini".
Kalo berdoa dengan sangat memaksa kepada Allah, selain itu juga sambil 'ngersulo', protes, dan kegalauan lainnya, apabila didengarkan tidak enak sama sekali, karena itulah oleh Allah dipercepat dikabulkan, biar orang tersebut diam. 
 
Makanya anda harus hati-hati, misal malamnya berdoa, terus paginya langsung diijabah. Terkadang kejadian seperti ini membuat orang bangga, karena upaya doanya langsung muncul hasilnya saat itu juga, harus hati-hati itu, bisa jadi Istidroj! 
Ada lagi yang menyatakan, "wah itu doanya wali, langsung terkabul", padahal tidak peduli wali atau bukan, kalo dia berdoa dengan memaksa Allah, dan membuat Allah tidak suka dengan suara doa itu, lalu cepat diberi, itu adalah istidroj. 
Bagusnya anda berdoa, kemudian diserahkan saja menurut pilihan Allah. Anda dipersilahkan berdoa apa saja, tetapi serahkan apa yang anda inginkan tadi menurut pilihan Allah, biarkan Allah swt yang memilihkan! 
Maka sesungguhnya orang tersebut diijabah walaupun belum diberi. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid An-Nuur, Modern Hill, Pondok Cabe, Tangerang Selatan | 13 Januari 2014 - video menit ke 06:10]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Saturday, February 1, 2014

Berdzikir Tanpa Motivasi Apapun

Wacana SUFI ke-52

" Para Arifun mengingat Allah sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan, tidak memiliki motivasi yang lain, apalagi fadilah. 
Tidak ada tujuan mencari fadilah bagi kaum Arifun, karena para Arifun menyadari dalam kondisi apapun Allah berhak diingat.  
Itu sama dengan, apakah Allah membuat atau tidak membuat surga dan neraka, Allah tetap berhak disembah! dengan segala perjuangan, keseriusan, kekhusyukan dan keikhlasan kita.  
Hal yang sama, apakah Allah memberi pahala atau tidak, membuat pahala atau tidak dibalik dzikir kita, Allah tetap berhak diingat! dengan segala-galanya, karena berdzikir itu niscaya -tidak boleh tidak-.
Niscaya disini maksudnya tidak disebabkan oleh latar belakang atau motivasi apapun! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 11 Desember 2013 - video menit ke 13:00]

Friday, January 31, 2014

Menghindari Menerjemahkan Perintah dan LaranganNya

Wacana SUFI ke-51

" Banyak para SUFI bermunajat ingin menghindari untuk menakwili dan menerjemahkan sebuah perintah ataupun sebuah larangan yang datangnya dari Allah swt. 
Misalnya dalam hal perintah shalat, Allah swt memerintahkan "tegakkanlah shalat", kemudian mereka meresponnya "baiklah, kalo begitu aku harus shalat dengan benar, hatiku juga harus benar pula".

Mereka menghindari untuk menakwilkan kenapa Allah memerintahkan aku shalat? hal seperti itu justru dihindari, sebab nanti rahmat dan fadhol Allah swt dibalik shalat akhirnya menjadi terbatas. 
Apa yang dimaksud 'terbatas' itu ? yaitu terbatas menurut takwil kita, padahal anugerah Allah di balik shalat itu tak terhingga. 
Akibat kita mencoba mengurai alasannya kenapa Tuhan memerintahkan kita shalat, hingga uraiannya menjadi buku yang bertumpuk-tumpuk, akhirnya anugerah yang kita dapatkan hanya sebatas dan sebanyak itu saja. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 22 Januari 2014 - video menit ke 10:00]