Showing posts with label Dzikir. Show all posts
Showing posts with label Dzikir. Show all posts

Sunday, April 13, 2014

Perjalanan Dzikrullah

Wacana SUFI ke-77

" Dzikir ini satu bentuk keniscayaan sehari-hari. Semua orang beriman akan menjadikan satu standar atau quality di dalam kehidupan sehari-hari. 
Filosofi dzikir itu seperti apa? 
Mungkin ada pertanyaan kenapa manusia ini kok harus berdzikir ? 
Kenapa perintah dzikir diulang-ulang oleh Allah, sepanjang hari, dengan jumlah tertentu atau ada lagi tidak ada jumlahnya ? 
Selama ini kita sudah melakukan, tetapi kalau disebut sebuah titik pandang dari struktur tubuh, terdalam ruhnya sampai dengan perjalanan dibalik dzikrullah, ini seperti apa ?
Filosofi  dzikrullah inilah yang akan mengungkap, sebenarnya kenapa kita sampai pada satu titik. Seseorang itu pasti akan mengatakan, “ya sudah, manusia dan dzikrullah itu tidak pernah pisah’, karena begitu dia pisah dengan dzikrullah, sebenarnya dia telah melesat dari orbit manusiawinya.

Seandainya ada satu alat, tentu bukan alat manusia, tetapi alatnya ada di alam langit sana. Manusia memiliki satu orbit spesial yang begitu istimewa, tapi begitu dia tidak mengenal Tuhan, dia hilang dari orbitnya, dan jika mengingat kembali, terlihat kembali di jalur orbitnya.

Nah dari situ ada satu urutan gradasi perjalanan dzikrullah.

1.  MINALLAH - dari Allah

Apa saja yang disebut Minallah (dari Allah) itu, mulai dari bahan kita, sampai dengan seluruh kebutuhan-kebutuhan kita ?
Contoh : manusia tidak akan pernah mengerti kebutuhannya.

Besok itu, jantung saya harus berdetak berapa kali?

harus minum air berapa gelas?

hidung bernafas berapa kali?

apalagi yang tidak tampak, seperti saya besok harus berterima kasih atau bersabar, seberapa besar volumenya?

Ternyata Allah yang menyiapkan semua itu, sehingga semua ini pasti dari Allah. Puncak kesadaran yang disebut pencarian, pada akhirnya berkesimpulan semuanya dari-Mu, Tuhan.
      2.  ILALLAH - menuju Allah


Ketika hidup di dunia, orang selalu bilang tentang harapan, cita-cita maupun impian. Tetapi apakah kita pernah di dalam hidup ini menengok atau menjenguk sebuah harapan baru, yang paling hakiki? 
“saya punya harapan memiliki rumah, mobil, bisnis dll, tetapi pada akhirnya mati juga”.

Selanjutanya apa harapanku di kuburan?

setelah kuburan, apa harapanku di akherat?



Sebagai intermezzo, ada seorang kawan yang memiliki penderitaan pada titik nadir. Lalu dia ingin protes pada Tuhan. Tetapi dia justru mendapat ilham dari Allah swt. “Penderitaanmu di dunia saat ini, kalau dibanding penderitaanmu besok di akherat tidak ada apa-apanya”. Akhirnya kalimat itu selalu terngiang-ngiang setiap dia sedih, dan itu menjadi bagian yang membuat dia kembali pada satu titik yang begitu netral, setiap menghadapi masalah.



Ini soal harapan dan cita-cita, kemudian begitu di akherat harapannya cuma ada 2 yaitu kalau tidak ke surga, tentu ke neraka. Tetapi rupanya surga itu belum final. Seluruh penghuni surga berharap ingin bertemu Sang empunya surga yaitu liqo Allah atau bertemu Allah. “Oh, ternyata harapanku Engkau, Allah”.
Nah, ini namanya harapan final, sehingga disimpulkan seluruh perjalanan hidup, cita-cita, harapan , impian dan semuanya rupanya menuju pada Allah swt.



 Jadi sebagai orang beriman, kalau kita belum pernah punya, “cita-citaku adalah Engkau, Allah”. Kita harus bangun cita-cita seperti itu, kenapa? kalau tidak, perjalanan iman kita sendiri bakal kesandung-sandung, karena harapannya bukan Allah swt.



Ada satu ayat di Al Quran yang sering dikutip pada saat maulidan, “ada teladan yang bagus, di dalam pribadi Rosul, bagi orang yang harapannya Allah”. Tetapi kalau harapannya bukan Allah, mengikuti jejak Rosul itu berat sekali, karena itu perlu harapannya menuju Allah swt.



Dalam prakteknya sehari-hari , “aku niat berangkat kerja untuk beribadah, karena cari nafkah untuk keluarga itu termasuk ibadah”.  Hal itu mungkin sudah dilakukan bertahun-tahun, sekarang ketika berangkat kerja, perlu dinaikkan grade dan motivasi anda. Bukan lagi ibadah, naik dari ibadah menjadi ubudiyah. Kalau ibadah itu menyembah, tetapi kalau ubudiyah itu menuju pada Allah swt.



Jadi anda berangkat dari rumah untuk bekerja, diiringi dengan berdoa “ya Allah, aku menuju kepadaMu”. Anda akan mengalami suatu proses spiritualisasi yang sangat berbeda dari rumah ke kantor. Hal ini akan berbeda nuansanya ketika berangkat ke kantor, sekedar mengatakan “Tuhan, aku bekerja dengan niat beribadah lho”.



Shalat juga begitu, kalau dulu aku niat supaya dapat pahala, sekarang harus berubah aku menuju kepadaMu. Hal itu akan membuat anda mulai menjalani keakraban, disitu mulai muncul sense of Allah swt.



Aku menuju Allah itu dengan apa atau dengan siapa ? ini akan beranjak ke urutan gradasi berikutnya yaitu Billah.
      3.  BILLAH - bersama Allah



Maksudnya, bukan bersama diri sendiri, dengan seluruh kemampuan, kapasitas dll.



Orang kalau menuju Allah swt bersama dirinya sendiri, itu sangat berat dan barangkali akan sangat mudah terpleset. Kata Tuhan, “kalau kamu menuju Aku, harus bersama-KU, bersama agama-Ku, bersama nabi-Ku, bersama nur-Ku, bersama rahmat dan fadhol- Ku , karena semua manusia itu mengenal Aku”.



 Di dalam AlQur’an disebutkan, semua makhluk itu mengenal Allah swt, tetapi hanya bagi yang benar-benar mengikuti cara menuju Allah, dan dia bersama Allah, dengan agama dan para nabiNya, yang bakal akan sampai kepada Allah swt.



 Contoh para filosuf yunani kuno, yang mempengaruhi peradaban modern ini. Semua mencari Tuhan dan semua mengatakan mengenal Dia. Tetapi setiap abad, selalu muncul antitesa terhadap sintesa mereka. Dan rupanya memang sebenarnya mereka belum ketemu Tuhan.



Supaya sampai pada Allah swt harus Billah (bersama Allah). Kalau orang di posisi bersama Allah swt, maka seseorang akan mulai mengakui proses yang disebut dengan abdun (hamba). Konsep tentang hamba, di dalam dunia pendidikan modern atau filsafat pendidikan tidak ada sama sekali pembahasannya. Tidak ada konsep supaya orang di didik menjadi hamba Tuhan. Dan hal itu hanya ditemui di dalam Islam saja.



Di dalam AlQur’an ayat tentang isro’ mi’roj diawali dengan “Maha Suci Allah”. Satu-satunya surat yang dimulai dengan “Subhana”, itu hanyalah surat Al-‘Isro. Subhana itu tasbih, bentuk penafian, menafikan segala hal selain Allah swt.



Supaya Rasulullah saw itu sampai pada Allah swt, dan yang di-isro’-kan (diperjalankan) oleh Allah swt, itu bukanlah bi-muhammadin, bi-rosul atau bi-nabi, akan tetapi bi-abdihi (bersama kehambaan).  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya” (surat Al-‘Isro , ayat 1).



 Jadi yang bisa menghadap Allah itu kehambaan, karena tahap dimana seseorang pada eksistensi kehambaan, keakuannya akan hilang, egonya juga hilang. Kenapa iblis itu kena hijab ? itu gara-gara kata “Aku”. Maka di AlQur’an ada tragedi “Aku” yang sangat mencekam dan gelap, yaitu akunya iblis dan akunya fir’aun. Keduanya berkolaborasi menjadi satu kekuatan gelap yang luar biasa sampai dengan sekarang.



Iblis menyatakan, “aku lebih baik dari Adam’, itu berarti kehambaannya hangus, lalu dia masuk dalam hijab kegelapan. Mulai saat itulah dia benar-benar menjadi iblis. Begitupun Fir’aun yang mengatakan, “Akulah Tuhanmu yang paling hakiki”.



Dua-duanya dengan “Aku”, dan dari keduanya sejak abad ke-18, setelah munculnya abad pencerahan filsafat eksistensialis modern, maka muncul gerakan “aku” untuk humanisme. “Aku mampu….. !!! Aku hebat….. !!! Aku berdaya……!!!.... dll ”. Kemudian menjadi gerakan motivator seluruh kebudayaan dan manajemen modern.



Padahal ketika orang berkata, “Aku mampu…..!!! Aku hebat…..!!! Aku berdaya……!!!.... dll ”, Tuhan menjadi hilang. Memang menjadi hebat, seperti Fir’aun. Apalagi iblis lebih hebat. Tetapi hebat yang gelap, karena kehambaannya hilang.



Seharian penuh bekerja keras, “itu kan prestasiku”, maka hilang kehambaannya, orang sudah tidak bersahaja lagi. Tuhan sudah tidak dianggap berperan dalam proses tadi, “Tuhan dimana? nanti saja menjelang adzan maghrib, Tuhan akan terlibat”. Hal ini betul-betul menafikan Tuhan, gara-gara muncul keakuannya.



Pada Billah inilah, proses yang disebut abdun itu mulai muncul, dalam proses-proses kehambaannya menuju kepada Allah swt. "
 [ DR KHM Luqman Hakim | Kantor Pusat Bank BNI Sudirman, Jakarta Pusat | 10 April 2014 ]

Friday, April 4, 2014

Mendidik Keikhlasan

Wacana SUFI ke-73

" Bagaimana kita mendidik dan menjaga keikhlasan ? 
Pendamlah dirimu atau wujudmu di dalam gundukan tanah yang sunyi. Tapi bukan dengan dikubur, “wah, ini harus topo mendem”. Maksudnya diri adalah sebuah kualitas. Kualitas yang selama ini ada di dalam dirimu, yang berhubungan dengan Tuhanmu, pendamlah dan jangan ditampakkan. Kualitas hubungan kita dengan Allah, harus kita sembunyikan betul, seperti orang memendam mayatnya. 
Sebuah pohon yang tidak pernah dipendam bijinya, tidak akan pernah sempurna tumbuhnya. Orang ahli ibadah, ahli amal, ahli kebaikan yang setiap hari dipamer-pamerkan, tidak akan pernah sempurna spiritualitasnya orang itu. Meskipun mungkin saja dia tumbuh, seperti pohon yang tumbuh besar sekali, tetapi tidak ada buahnya. 
Ada pohon besar sekali, tapi tidak pernah berbuah, biasanya bijinya tidak dipendam, bijinya dilempar begitu saja, tumbuh sendiri dan liar. Tumbuhnya tidak sempurna, karena tidak di didik, bijinya tidak dicangkul, dipupuk, penyakitnya dibuang dan dipagari. 
Keiklasan amaliyah, harus kita sunyikan. "Ya Allah, biar Engkau saja, yang tahu kebaikanku". Misal dalam hal sholat, biarlah yang tahu hubungan hatiku dengan Engkau ketika aku shalat, cukup Engkau sendiri. Malaikat jangan boleh tahu, Tuhan. Sebab kalau malaikat tahu, akan mencatatnya. Jika dicatat, isinya mungkin akan banyak kurangnya. 
Hal yg sama, ketika biji disebar, biasanya kalau tidak dipatuk burung, dimakan ulat atau tumbuh tidak sempurna seperti tadi. Begitu juga kualitas hubungan kita dengan Allah, kalau kita tunjuk-tunjukkan ke orang lain, akan dipatuk oleh setan. Kualitas hati yang dipatuk dan dicuri oleh setan karena diperlihatkan, jadinya langsung diganti dengan takabur, takjub diri, riya atau bangga. 
Dikatakan oleh Syech Abul Abbas Al Mursi, “Siapa yang menginginkan popularitas, berarti dia bukan hambanya Allah, tapi hambanya popularitas. Siapa yang menginginkan tersembunyi, dia hambanya tersembunyi”. 
Saya mau bersembunyi saja, kenapa ? supaya makhluk-makhluk tidak melihat saya. Dan nanti kalau saya menyembunyikan sedekah atau perbuatan baik, nanti saya akan disebut orang ikhlas. Anda menyembunyikan sesuatu, karena ingin disebut ikhlas, itu namanya riya. Jadi baiknya biasa-biasa saja lah. 
Yang disebut hamba Allah itu, tampak ataupun tersembunyi, sama saja. Orang berusaha menyembunyikan, misal anda ingin menyembunyikan, itu jangan karena ingin tersembunyi. Ada orang yang menyembunyikan sesuatu, khawatir kalau ditampakkan jadi bahaya, sebaiknya disembunyikan saja. Atau ada orang ingin menampakkan sesuatu, tetapi kalau ditampakkan bisa habis-habisan, sebaiknya disembunyikan saja. Ini adalah proses mendidik.  
Kalau sdh sempurna sebagai hamba Allah atau Abdullah, dia tidak ada urusan tampak ataupun tersembunyi, karena sudah bukan hambanya tampak atau hambanya tersembunyi, tapi hambanya Allah. Seperti itulah latihan keikhlasan kita. 
Jangan sampai kita berbuat baik, tapi menunggu ikhlas. Berbuat baik sajalah, kadang-kadang Allah menurunkan anugerah ikhlas, tanpa kita duga. Misal anda berdzikir tapi belum bisa ikhlas, tetap dzikir saja, nanti tiba-tiba ikhlas datang juga. Ikhlas itu juga tidak bisa kita usahakan, itu anugerah Allah. 
Orang di didik dengan Lillahita’ala, apa sudah ikhlas? belum, itu baru menyiapkan diri untuk wadahnya ikhlas. Sebesar apa kualitas lillahita’ala itu, sebesar itulah Allah memberi ikhlas, dan rasa lillahita’ala masing-masing orang berbeda. "
[ DR KHM Luqman Hakim | Kantor Pusat PT TELKOMSEL | 27 Maret 2014 ]

Tuesday, March 18, 2014

Arah Wajah Kita

Wacana SUFI ke-71

Orang Yahudi itu kalo shalat ke barat, orang Nashoro kalo sembahyang menghadap ke timur. Tidak bagus kalo kita mengarahkan wajah kita itu ke barat atau timur. 
--- Al-Birru itu sebuah kebajikan yang didalamnya mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan. akhlak, adab. Salah satu nama Allah itu Al-Birru ---
Kenapa Allah menyebutkan ini soal wajah yang mengarah ? ini menggambarkan bahwa orang Yahudi dan Nashoro lebih banyak memandang kebenaran (al-birru) dari aspek lahiriah/dhohiriyah belaka. Soal dhohir itu soal arah, fisik, dimensi, penjuru, ruangan. Inilah yang dikonsentrasikan oleh dua agama tersebut. 
Bagi Islam, yang bagus bukan soal sekedar mengarah tempat, ruang, penjuru, dll tetapi man amana billah (beriman kepada Allah). Kemanapun engkau menghadapkan wajahmu, maka disanalah wajah Allah.
Apa yang dimaksud mengarahkan wajah disini ? dan apa pula yang dimaksud wajah Allah ?
Kemudian ada pertanyaan, “wajah Allah tidak kelihatan oleh mata kita, kok kita harus mengarahkan wajah, ini bagaimana ya ?”. 
Maksudnya wajhullah adalah arah ilahiyah atau kalo gambaran masa sekarang perspektif sebuah arah yang terdiri dari 2 yaitu arah yang dhohir dan arah yang bathin. 
Jadi yang dimaksud al-birru disini bahwa menghadapkan adalah wajah bathin kita. Kemanapun engkau menghadapkan wajah dhohir, anda harus memandang dengan wajah bathin. 
Wajah dhohir kita ini, di dalamnya ada banyak macam, ada lisan, ada hidung, ada mata, ada bentuk, ada alis, ada telinga. Wajah manusia tersebut banyak dan diwakili oleh apa ? 
Seluruh tubuh/diri diwakili oleh kepala. Seluruh badan diwakili oleh hati. Wajah diwakili oleh mata. Kalo wajahnya hati, diwakili oleh mata hati. 
Mata kepala kita selalu memandang yang tampak secara lahiriyah. Mata hati kita selalu memandang yang bersifat maknawiyah, hakikiyah. 
Karena yang dipandang oleh mata hati maknawiyah, maka Allah mengarahkan mata hatimu harus 'melek', yang bagus itu adalah man amana billah yaitu orang yang beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, beriman kepada Malaikat dan kitab serta beriman kepada para Nabi. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami Baiturrohim, Beji Timur, Depok | 8 Maret 2014 - video menit ke 02:20]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Saturday, February 1, 2014

Berdzikir Tanpa Motivasi Apapun

Wacana SUFI ke-52

" Para Arifun mengingat Allah sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan, tidak memiliki motivasi yang lain, apalagi fadilah. 
Tidak ada tujuan mencari fadilah bagi kaum Arifun, karena para Arifun menyadari dalam kondisi apapun Allah berhak diingat.  
Itu sama dengan, apakah Allah membuat atau tidak membuat surga dan neraka, Allah tetap berhak disembah! dengan segala perjuangan, keseriusan, kekhusyukan dan keikhlasan kita.  
Hal yang sama, apakah Allah memberi pahala atau tidak, membuat pahala atau tidak dibalik dzikir kita, Allah tetap berhak diingat! dengan segala-galanya, karena berdzikir itu niscaya -tidak boleh tidak-.
Niscaya disini maksudnya tidak disebabkan oleh latar belakang atau motivasi apapun! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 11 Desember 2013 - video menit ke 13:00]

Thursday, January 23, 2014

Mendidik Hati Hadir Dihadapan Allah


Wacana SUFI ke-43

" Seputar dzikrullah yaitu manusia berdzikir terbagi dalam tiga tipikal :
1. Kalangan Publik, umumnya orang berdzikir, dia berharap dengan dzikir bisa mengambil faedah sebagai bentuk permulaan untuk proses-proses tazkiyatun nufus, membersihkan jiwa dan menyucikan hati. 
2. Kalangan Khusus yaitu kalangan para Ulama, berdzikir dalam upaya untuk merespon ketentuan-ketentuan dari Allah Swt. 
3. Kalangan Lebih Khusus lagi, berdzikir sebagai akibat dari limpahan-limpahan hidayah dari Allah, supaya bisa terus-menerus waspada kepada Allah. Kadang kewaspadaan kepada Allah itu menghilang dari diri kita sendiri, sehingga sebenarnya kita sendiri memjadi lupa atau alpa bahwa Allah itu Maha Waspada kepada kita. 
Berdzikir umumnya untuk proses penyucian dan pembersihan, biasanya dilatih dengan dzikir nafi dan isbat, maksudnya dzikir yang diawali dengan nafi dan diakhiri dengan isbat yaitu LAAILAHAILLAH. Ketika orang menyebut tidak ada Tuhan, itu berarti seluruh asma', sifat dan semuanya tidak ada kecuali hanya Allah. 
Bahkan kemudian dalam praktek-praktek melatih dzikrullah, sejumlah thoriqoh memiliki metode proses pendidikan penyucian dibalik dzikir, sedikit berbeda-beda walaupun tujuannya sama. Itu semua adalah metode-metode yang sesungguhnya berguna untuk mendidik proses hati kita supaya hudhur, hadir betul diri kita di hadapan Allah. 
Betapa banyak orang berdzikir tetapi sesungguhnya tidak pernah hadir di depan Al-Madzkur yang kita dzikiri! "  
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 11 Desember 2013 - video menit ke 00:00]

Friday, January 17, 2014

Bersembunyi Dibalik Alibi Nafsu


Wacana SUFI ke-36

Nafsu apapun tidak akan pernah dapat kita jadikan pegangan, apapun alasannya, apapun alibinya. 
Banyak sekali alibi-alibi dibalik nafsu, misalnya dengan berbagai macam kalimat “saya khan baru belajar agama”, “saya khan manusia biasa”, “memang nasib saya sih belum beruntung, tidak seperti anda”. Padahal itu nafsu lho yang ngomong. 
Ini tidak boleh sering terjadi, harus dibuang. Jangan sampai kita ikuti, akan membuat kita bersembunyi dibalik alibi-alibi nafsu kita sendiri, tahu-tahu kita sudah sangat jauh dari Allah. 
Dengan anda berdzikir terus menerus, melakukan tafakur, dapat menghantam nafsu, tercerai berai seperti daun-daun yang keropos. Namun jika nafsu dibiarkan, akan berubah menjadi neraka di dalam hati kita. 
Melanggengkan dzikir akan membuat hati senantiasa tetap terjaga."
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid "GUSDUR" Ciganjur Jakarta Selatan | 17 Jan 2011 - video menit ke 16:20]

Wednesday, January 8, 2014

Didepanku Engkau, ALLAH!

Wacana SUFI ke-22

Kita ini ditengah-tengah alam semesta posisinya, makanya kita disebut anda bersama alam, sepanjang anda tidak menyaksikan Sang Pencipta Alam. 
Jika hidup anda tidak bersama Allah, tapi bersama alam saja. Maka ini sama dengan Anda bersama dunia, sepanjang di dunia Anda tidak menyaksikan Allah, hidupnya seperti “ngintil dunyo” terus. 
Sebaliknya kalo anda menyaksikan Allah, berarti alam lah yang mengikuti anda, bukan anda yang mengikuti alam. 
Selama ini, barangkali kita memposisikan alam semesta, kehidupan dan aneka ragam perniknya di depan kita, baru diujung sananya ada Allah. 
Banyak pandangan bahwa kehidupan harus diperjuangkan, setelah itu nanti baru menghadap dan ketemu Allah. Padahal akhirnya kita bukan ketemu Allah, tetapi akan mengikuti yang ada di depan kita saja, yaitu ternyata mengikuti alam. 
Sama saja, ketika kita beralasan/beralibi : “Saya mau tekun ibadah, ntar kalo saya sudah lulus, ntar kalo urusan saya sudah beres”. Ini sesuatu yang kita ciptakan di depan kita, akhirnya hidup kita begini-begini saja dan tidak ketemu Gusti Allah. 
Semestinya khan, alam diletakkan di belakang, di depanku adalah Engkau, Allah !  
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid "GUSDUR" Ciganjur Jakarta Selatan | 18 April 2011 - video menit ke 13:13]

Sunday, January 5, 2014

Gambaran Orang Ber-DZIKIR



Wacana SUFI ke-19

" 1. Ada orang berdzikir karena sebuah rasa takut. Orang mengingat Allah karena rasa takut, pasti yang dia ingat ada ancaman-ancaman, ada siksa-siksa Allah. Ketika mengingat hal itu akan mengalami satu ketakutan ketika menghadap kepada Allah.
2. Ada orang berdzikir karena sebuah rasa harap. Bagi orang yang sedang berharap, orang yang memiliki roja', maka dzikrnya adalah akan mengingat janji-janjiNya. Orang yang mengingat janji-janji Allah akan sangat optimis terhadap rohmat Allah.
3. Ada yang berdzikir karena rasa menyatu jiwanya dengan yang didzikiri yaitu Allah. Orang yang manunggal, dia melihat bahwa hanya DIA lah satu-satunya yang berhak diingat. Nah, ini namanya mempraktekkan dzikir dalam tauhid. Saya ini bertauhid tapi dzikirku bertauhid belum ya ? Kalo ketika berdzikir masih ada yang lain-lain, berarti DIA belum satu-satunya.
4. Ada juga dzikirnya para pecinta. Tentu para pecinta kalo mengingat sesuatu, hal tersebut  diawali dengan kerinduan luar biasa. Para pecinta berdzikir karena kerinduan untuk segera menyaksikan yang dicintai, berarti ada gairah luar biasa dibalik dzikirnya. 
5. Ada dzikirnya para 'Arifun. Dzikirnya orang-orang yang makrifat. Dzikirnya hanya bagi Allah saja, bukan demi untuk kepentingan para 'Arifun itu sendiri. Begitu juga mereka tidak merasa berdzikir. Mereka berdzikir tak lebih pantulan cahaya dzikirnya Allah. Allah sebaik-baik yang berdzikir. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Bank Indonesia, Jakarta Pusat | 11 Des 2013 - video menit ke 09:50]

Saturday, January 4, 2014

Harus Senantiasa ALHAMDULILLAH





Wacana SUFI ke-18

" Manakala matahati itu memandang bahwa Allah itu Tunggal, satu-satunya Sang Pemberi Anugerah. 
Meskipun kita tahu anugerahnya banyak sekali, tetap DIA-DIA juga yang memberi. 
Semua ini hakekatnya anugerah dari Allah, dan satu-satunya Allah juga Sang Pemberi. 
Contohnya saat kita makan di warteg, dikasih makanan, tetap Sang Pemberi adalah Allah juga, bukan pedagang wartegnya. 
Lantas syariatnya bagaimana menyikapinya? 
Secara syariat dituntut dari diri kita, agar sebagai hamba terus-menerus mensyukuri ciptaan dan anugerah Allah, yang bermacam-macam tersebut. 
Tuntutan tersebut mengharuskan kita senantiasa mengucapkan "Alhamdulillahi Robbal'alamin". 
Apa saja harus Alhamdulillah. 
Kenapa ? karena ini ternyata ENGKAU semua, ya Allah.  
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 2 Mar 2011 - video menit ke 19:22]

Tuesday, December 31, 2013

Cara Allah Menghibur



Wacana SUFI ke-11
Bahwa rasa suka, rasa bahagia, biarlah itu tetap sebagai wataknya. 
Hanya tak lebih dari akibat dari seluruh perjalanan hidup. 
Dan akibat-akibat itu sebenarnya bukan disebabkan oleh perjalanan kita. 
Misalnya begini, Anda berdzikir tiba-tiba muncul rasa tentram, rasa senang.  Apakah rasa tentram itu akibat dzikir Anda ? ‘TIDAK’. 
Itu hanya cara Allah menghibur kita, diberikan hiburan supaya kita bisa terus berdzikir. 
Kadang-kadang diberi rasa tentram/senang, kapan waktu rasa nggak enak, rasanya biasa saja, kapan-kapan senang kembali. 
Ini supaya kita terus-menerus berdzikir saja.  
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid "GUSDUR" Ciganjur Jakarta Selatan | 17 Jan 2011 - video menit ke 03:02]