Showing posts with label Problematika Dunia. Show all posts
Showing posts with label Problematika Dunia. Show all posts

Monday, May 19, 2014

Air rohmat Allah menggenangi Hati Tawadhu


Wacana SUFI ke-79

Tak ada yang membuat seseorang runtuh dibanding kesombongan.

Ketika orang sombong, sebenarnya dia sudah runtuh. 

Hujan turun mengalir di tanah yang kondisinya menurun, dan tidak menggenang di atas kepala bukit.

Diibaratkan hati orang sombong, seperti kepala bukit yang posisinya di atas terus. 

Padahal hujan itu tidak pernah menggenang disana, tapi menggenangi  tanah-tanah yang rendah. 

Begitu juga air rohmat Allah Ta'ala, akan mengalir dan hanya berpindah dari wilayah hati yang sombong menuju hati yang tawadhu. 

Hati yang rendah, itu seperti tanah yang rendah, yang akan terus menerus digenangi rohmatnya Allah Ta'ala. 

Di dalam wudhu, kita diwajibkan untuk mengusap kepala, karena kepala itu tempat orang menegakkan eksistensi dirinya, untuk menyombongkan diri. 

Makanya sampai harus diusap saat kita wudhu, dan supaya air rohmat itu mengalir, kepala kita haruslah menunduk.

Apa yang kita jadikan alasan untuk sombong di dunia ini ? 

Tak sedikitpun atau tak satupun alasan untuk sombong. 

Yang dimaksud orang yang sombong yaitu orang yang menolak kebenaran, bukan lah orang yang memakai pakaian bagus, yang cakep atau memakai mobil bagus. 

Orang yang sombong selain menolak kebenaran, juga punya perasaan meremehkan orang lain. 

Ketika orang meremehkan orang lain, maka pada saat yang sama dia merasa lebih dari orang lain. 

Nah, itulah yang disebut sombong.

Walaupun pakainnya kumal, kalo dia meremehkan orang lain, jadinya sombong dia. 

Sedangkan orang yang tawadhu yaitu orang yang rendah hati, bukan rendah diri. 

Orang yang jiwanya terbuka, menerima fakta-fakta kehidupan yang berbeda-beda, dengan keluasan jiwa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 7 Mei 2014]

Wednesday, May 14, 2014

Tanda-tanda Orang Sukses

Wacana SUFI ke-78

Saya ini sukses atau tidak ya menjadi hamba Allah ?  
Apakah saya sukses ukhrowi atau tidak ya ?

Apa yang disebut sukses itu kariernya sukses, fasilitasnya sukses ?  padahal itu sukses duniawi belaka.  
Kalo kita tidak sukses ukhrowi, hidup kita ini akan sia-sia. Bertahun-tahun hidup, ternyata tidak sukses di akherat. 

Bagaimana cermin bahwa kita itu sukses ? 
ketika memulai apa saja hidup di dunia ini, senantiasa mengembalikan semua itu kepada Allah. Tandanya anda sukses.

Contoh : anda mau membaca Qur’an. Aku membuka Qur’an, nawaitu membuka Qur’an ini sesunguhnya dariMu, Allah. Inilah yang namanya kembali pada Allah. Engkau gerakkan melalui anugerahMu, dan ini juga kehendakMu. Sekarang ketika aku membaca Qur’an, juga bersamaMu, untuk apa saya membaca Qur’an ? hanya bagiMu. Itu namanya kembali pada Allah. 

Tiga suku kata mudah untuk diingat terus, ~minhu-bihi-ilaihi~ Dari Allah, Bersama Allah, Menuju Allah dalam segala hal. Itu akan membebaskan seluruh beban-beban amaliyah kita. 

Termasuk anda bekerja, bahwa aku bekerja ini karena dariMu. Sekarang aku berangkat bersamaMu. Untuk apa saya bekerja? hanya BagiMu, Allah. Menjadi ringan bekerjanya. 
Inilah tanda di akherat orang itu sukses. 

Siapa yang cemerlang awalnya, cemerlang pula akhirnya. Artinya cemerlang itu dilimpahi oleh Nur. Hatinya cemerlang yaitu hati yang dilimpahi oleh Nur. 

Kalo sejak awal kita ini bersama Allah, akhirnya tentu pasti menuju Allah. Tetapi coba kita tidak bersama Allah, bersama diriku sendiri, bersama kepentingan-kepentinganku sendiri, bersama selera-seleraku sendiri. Itu tidak akan bertemu Allah nanti. Walaupun kita sujud sampai hitam kepala kita. 

Jadi harus billah, bersama Allah awalnya. Ya Allah.....aku ini bersamamu, karena Engkau semua yang menggerakkan aku ini. Kenapa? karena ini kehendakMu semua. Aku tidak berdaya, Tuhan. 

Disitu lalu muncul pilihan-pilihan. Pilihan apa? Aku tidak ingin dalam proses ubudiyah ini, bersama makhlukMu, bersama hawa nafsuku, apalagi bersama syetan. Nanti aku menjadi tidak ketemu Engkau, Allah. 

Ketika sholat, ya Allah....ini Engkau. Semua ini yang menggerakkan Engkau, termasuk nawaituku juga. Itu setidak-tidaknya menghantar kita untuk tawajjuh (menghadap), lalu menjadi khusyu’ kita. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 3 Juli 2013]

Wednesday, April 9, 2014

Kemuliaan yang Abadi

Wacana SUFI ke-75

" Di antara kemuliaan yang dianggap mulia oleh orang lain, manakala imajinasi publik yang mengatakan ada orang tiba-tiba menghilang dan berada di kutub utara, terus dalam sekejap kembali ke tempat semula. Kehebatan semacam itu dianggap sebuah kemuliaan. Hal ini dikritik oleh Syech Ibnu ‘Athaillah.

Pada zaman Beliau, banyak orang pergi ke Mekah dalam sekejap, terus kembali lagi, yang sering disebut melipat ruang. Ada lagi yang disebut melipat waktu, dalam sekejap tiba di zaman 2000 tahun yang lampau, atau dia bisa memasuki zaman 1000 tahun yang akan datang, dan semua kejadian diketahuinya, kemudian dalam sekejap balik lagi di masa sekarang.

Kata Beliau, bukan seperti itu yang dianggap melipat hakiki, yang disebut melipat/quantum/lompatan yang hakiki, sebenarnya atau sesungguhnya adalah apabila bisa melipat jarak dunia ini dari anda. Kalau kita bisa menggulung langit dan bumi, tiba-tiba anda sudah di akherat, nah ini baru hebat. Jika anda melihat akherat lebih dekat dibanding diri anda, dan akherat pun dia lipat, tiba-tiba dia sudah di depan Allah swt. Inilah yang namanya melipat hakiki.

Syech Abul Abbas Al Mursi mengatakan, bukan sesuatu yang penting, orang yang punya kehebatan melipat ruang dan waktu, itu tidak penting sama sekali. Maksudnya orang hebat tadi dibanding dengan orang yang tidak bisa apa-apa, di mata Allah sama saja. Jangan dikira, orang yang bisa melipat ruang dan waktu tersebut lebih tinggi dan mulia di mata Allah swt, dibandingkan dengan orang yang tidak bisa apa-apa. Bukan seperti itu yang dianggap penting, tetapi yang hebat dan paling penting itu orang yang bisa melipat nafsu-nafsunya. Misalnya anda punya agenda nafsu dengan segala watak dan perilakunya, kemudian anda gulung, begitu jelinya dia lipat, tiba-tiba hadir di depan Tuhannya. Inilah yang paling hebat.

Makanya para masyayih dan para syech Sufi mengingatkan, anda jangan heran kepada orang yang memasukkan tangannya ke kantong saku selalu ada uangnya. Heran lah pada orang yang meletakkan uang atau barang berharga di kantong sakunya, setelah beberapa saat dia masukkan tangan di kantong sakunya, ternyata uang atau barang berharga tersebut tidak ada/hilang. Tetapi dia tidak berubah roman mukanya, tidak sedih, tidak menyesal, juga tidak bingung mencari kemanapun. Anda patut heran dengan orang seperti ini. Hal ini karena nafsunya sudah dilipat dan digulung oleh dia.
Pernah ditanyakan kepada salah seorang Syech Sufi, “wahai Guru, si A itu bisa berjalan di atas air melintasi samudera atau bisa terbang di atas awan”. Jawab Beliau, “saya lebih kagum pada orang yang bisa melawan hawa nafsunya, dibanding orang yang bisa berjalan di atas air ataupun bisa terbang”.

Ini lebih agung dan hebat, karena dia telah mampu menundukkan dirinya sendiri.  "
[ DR KHM Luqman Hakim | Masjid Jami Baiturrohim, Beji Timur, DEPOK | 8 April 2014 ]

Tuesday, April 8, 2014

Menepis Riya

Wacana SUFI ke-74

" Ada orang yang ibadahnya tekun, tapi tidak pernah paham hakikat ibadahnya. Rupanya memang bijinya tidak ditanam. Atau besar sekali pohonnya, tapi tidak ada buahnya. Dulu memang dilempar begitu saja. Buah mangga itu tumbuh sendiri, besar dan tidak berbuah. Atau belum sampai tumbuh sudah busuk. Ini adalah bahayanya riya.  
Hubungannya dengan Ikhlas, bagaimana menepis Riya ? harus disembunyikan hatinya. Anda tetap berbuat baik dengan siapapun, biarkan saja dilihat orang. Sedangkan hubungan hati anda dengan Allah, biar Allah saja yang tahu.  
Dawuhnya Syech Abdul Jalil almaghfurlah, “ Rahasiakan Allahmu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacatmu”. Artinya kualitas hubungan kita, kualitas imaniyah kita dengan Allah harus disembunyikan.  
Sebenarnya kita mengingat akherat saja, belum mengingat di hadapan Allah. Misalnya iman anda ini hebat, orang se-indonesia menyebut anda orang paling beriman. Anda punya nama besar karena anda paling beriman. Atau disebut orang paling makrifat misalnya. Bahkan disebut orang seluruh dunia sebagai paling hebat, apakah ada pengaruhnya di akherat ? khan tidak ada pengaruhnya di akherat. 
Malu juga, ternyata di akherat tidak ada artinya disebut orang paling hebat. Apalagi di depan Allah, tentu lebih malu lagi, “mana kehebatanmu hambaKu ? kamu khan tidak pernah membuat, itu ciptaanKu”.  
Dengan begitu orang menjadi “plong”, hidupnya jadi tulus. Kenapa aku sulit bisa tulus ? karena kita memang tidak “plong”. Banyak yang kita sembunyikan dan takuti, lalu kita berbuat baik pun untuk menutupi rasa takut kita. Takut kalo dikatakan begini, takut kalo tidak dikatakan begitu.  
Itu membuat jalan kita tersandung-sandung. Jalan hati atau jalan iman kita kepada Allah swt yang sebenarnya tersandung-sandung. "
[ DR KHM Luqman Hakim | Masjid Jami AlMunawwaroh, GUSDUR, Ciganjur Jaksel | 7 April 2014 ]

Friday, April 4, 2014

Mendidik Keikhlasan

Wacana SUFI ke-73

" Bagaimana kita mendidik dan menjaga keikhlasan ? 
Pendamlah dirimu atau wujudmu di dalam gundukan tanah yang sunyi. Tapi bukan dengan dikubur, “wah, ini harus topo mendem”. Maksudnya diri adalah sebuah kualitas. Kualitas yang selama ini ada di dalam dirimu, yang berhubungan dengan Tuhanmu, pendamlah dan jangan ditampakkan. Kualitas hubungan kita dengan Allah, harus kita sembunyikan betul, seperti orang memendam mayatnya. 
Sebuah pohon yang tidak pernah dipendam bijinya, tidak akan pernah sempurna tumbuhnya. Orang ahli ibadah, ahli amal, ahli kebaikan yang setiap hari dipamer-pamerkan, tidak akan pernah sempurna spiritualitasnya orang itu. Meskipun mungkin saja dia tumbuh, seperti pohon yang tumbuh besar sekali, tetapi tidak ada buahnya. 
Ada pohon besar sekali, tapi tidak pernah berbuah, biasanya bijinya tidak dipendam, bijinya dilempar begitu saja, tumbuh sendiri dan liar. Tumbuhnya tidak sempurna, karena tidak di didik, bijinya tidak dicangkul, dipupuk, penyakitnya dibuang dan dipagari. 
Keiklasan amaliyah, harus kita sunyikan. "Ya Allah, biar Engkau saja, yang tahu kebaikanku". Misal dalam hal sholat, biarlah yang tahu hubungan hatiku dengan Engkau ketika aku shalat, cukup Engkau sendiri. Malaikat jangan boleh tahu, Tuhan. Sebab kalau malaikat tahu, akan mencatatnya. Jika dicatat, isinya mungkin akan banyak kurangnya. 
Hal yg sama, ketika biji disebar, biasanya kalau tidak dipatuk burung, dimakan ulat atau tumbuh tidak sempurna seperti tadi. Begitu juga kualitas hubungan kita dengan Allah, kalau kita tunjuk-tunjukkan ke orang lain, akan dipatuk oleh setan. Kualitas hati yang dipatuk dan dicuri oleh setan karena diperlihatkan, jadinya langsung diganti dengan takabur, takjub diri, riya atau bangga. 
Dikatakan oleh Syech Abul Abbas Al Mursi, “Siapa yang menginginkan popularitas, berarti dia bukan hambanya Allah, tapi hambanya popularitas. Siapa yang menginginkan tersembunyi, dia hambanya tersembunyi”. 
Saya mau bersembunyi saja, kenapa ? supaya makhluk-makhluk tidak melihat saya. Dan nanti kalau saya menyembunyikan sedekah atau perbuatan baik, nanti saya akan disebut orang ikhlas. Anda menyembunyikan sesuatu, karena ingin disebut ikhlas, itu namanya riya. Jadi baiknya biasa-biasa saja lah. 
Yang disebut hamba Allah itu, tampak ataupun tersembunyi, sama saja. Orang berusaha menyembunyikan, misal anda ingin menyembunyikan, itu jangan karena ingin tersembunyi. Ada orang yang menyembunyikan sesuatu, khawatir kalau ditampakkan jadi bahaya, sebaiknya disembunyikan saja. Atau ada orang ingin menampakkan sesuatu, tetapi kalau ditampakkan bisa habis-habisan, sebaiknya disembunyikan saja. Ini adalah proses mendidik.  
Kalau sdh sempurna sebagai hamba Allah atau Abdullah, dia tidak ada urusan tampak ataupun tersembunyi, karena sudah bukan hambanya tampak atau hambanya tersembunyi, tapi hambanya Allah. Seperti itulah latihan keikhlasan kita. 
Jangan sampai kita berbuat baik, tapi menunggu ikhlas. Berbuat baik sajalah, kadang-kadang Allah menurunkan anugerah ikhlas, tanpa kita duga. Misal anda berdzikir tapi belum bisa ikhlas, tetap dzikir saja, nanti tiba-tiba ikhlas datang juga. Ikhlas itu juga tidak bisa kita usahakan, itu anugerah Allah. 
Orang di didik dengan Lillahita’ala, apa sudah ikhlas? belum, itu baru menyiapkan diri untuk wadahnya ikhlas. Sebesar apa kualitas lillahita’ala itu, sebesar itulah Allah memberi ikhlas, dan rasa lillahita’ala masing-masing orang berbeda. "
[ DR KHM Luqman Hakim | Kantor Pusat PT TELKOMSEL | 27 Maret 2014 ]

Thursday, April 3, 2014

Hati bekerja dengan Allah


Wacana SUFI ke-72

Kalo tiba-tiba makhluk pun mulai tidak cinta pada anda. Contoh paling sederhana, anda putus cinta, karena diputus oleh pacar. Maka bergembiralah, itu cara Allah menolong anda. Kenapa ? Allah pelan-pelan membukakan cinta itu hanya padaNYA. Kebahagiaan cinta sejati, hanyalah padaNYA, bukan pada makhluk. 
Makanya di AlQur’an disebutkan, “orang-orang yang tidak dilalaikan dirinya oleh aktivitas bisnis, dari berdzikir pada Allah”. (QS. An-Nuur: 37)
Jangan sampai aktivitas kerja kita itu, melalaikan hubungan hati kita dengan Allah. Urusan kerja dengan dunia cukuplah urusan tangan, pikiran, mata, telinga, hidung, indera, kaki atau aktivitas fisik lainnya. 
Lha, bagaimana dengan hati kita ? hati bekerja dengan Allah, dengan sepenuh cinta kepada Allah. Itulah cara kita memandang.

Link Download Rekaman Audio Mp3

Kalo hati kita bekerja dengan Allah, maka akan menumbuhkan Nur, cahaya yang menerangi dunia. Termasuk dunia kerja kita. 
Lalu apa yang terjadi ? bukan kemudian, “oh, saya mau berdzikir, supaya pekerjaan saya lancar”, jika demikian kita tadi berdzikir bukan pada Allah, tetapi sebenarnya pada pekerjaan, jadinya memanfaatkan Tuhan.  
Anda boleh berdoa, tapi jangan sampai menimbang dunia dengan dzikir, menimbang dunia dengan ibadah, menimbang dunia dengan kabajikan kemuliaan akherat. 
Terlalu kecil jika dunia ditimbang dengan akherat, sama sekali tidak seimbang. Makanya kalo kita berbuat baik, ya lillahita’ala saja, tidak usah dihubung-hubungkan dengan duniawi.  
Tetapi anda boleh berdoa untuk kepentingan dunia anda, justru bagus, supaya ditolong oleh Allah dunia anda. Kalo dunia anda ditolong oleh Allah, dunia ini tidak akan menguasai anda, tetapi anda yang bisa menguasai.  
Bagaimana cara menguasai dunia ini ? yaitu jika nafsu kita tidak terlibat di dalam proses-proses duniawi tadi. Kalo nafsu kita terlibat, kita kembali lagi dikuasai oleh dunia. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA, Jakarta Pusat | 2 April 2014 - rekaman menit ke 28:20]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Monday, March 17, 2014

Menganiaya Diri Sendiri

Wacana SUFI ke-70

Ada sesuatu yang kadang-kadang menutup diri kita, itu semata karena kita tidak mengenal, dan dimana posisi kita sebenarnya. 
Tetapi bagi orang yang mengenal posisinya, jika ada pilihan misalnya antara permata yang posisinya ada di tengah-tengah binatang buas, atau harus memilih gandum yang ada di dekat dia. Pasti kalo orang tahu posisinya, dia akan memilih gandum tadi. 
Maka kalo kita harus bertobat, berarti kita memilih tergolong orang-orang yang al mahbubin, orang-orang yang dicinta oleh Allah swt. 
Yang mahal itu cintanya Allah swt, dan orang yang tobat itu, sebenarnya orang yang siap dicintai oleh Allah swt. Kalo belum tobat, berarti dia tidak siap meraih cinta. 
 
Begitu juga orang yang menyucikan hatinya, penyuciannya berarti dia akan menumbuhkan akhlak-akhlak dan adab yang mulia di dalam hatinya. Maka dia benar-benar menyiapkan diri untuk menjadi lembah cintanya Allah swt. 
Karena itu, kalo kita bertobat termasuk minal mahbubin, sebaliknya kalo tidak minal dzolimin, tergolong orang-orang yang dzolim, terutama dzolim pada diri sendiri. 
Kita ini menganiaya atau mendzolimi diri kita sendiri, dengan segala bentuk tindak yang tidak diridhoi oleh Allah swt, itu sebenarnya kita sedang mendzolimi diri sendiri.  "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 12 Maret 2014 - video menit ke 03:50]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Friday, March 14, 2014

Jangan Putus Asa Bertobat

Wacana SUFI ke-69

" Orang yang tobat justru beruntung, dan sebaliknya yang tidak mau tobat tentu rugi. 
Dan jangan sampai kita putus asa, seperti ungkapan berikut “sampai kapan ya aku bertobat ini ? dan aku akan mengulang lagi dosaku, aku tidak bakal diampuni”.
 
Orang sakit saja sepanjang masih ada nyawanya, masih tetap berharap hidup. Kenapa orang itu ingin tobat ? karena dia ingin masih hidup hatinya, ingin hatinya kembali kepada Allah, harapannya seperti orang yang sakit tadi. 
Sebenarnya orang yang berdosa, ini kan seperti orang yang sakit. Dia sakit seberat apapun, tetap berharap sembuh dan hidup. 
Orang yang maksiat sebenarnya tetap memiliki harapan ingin bertobat. Tetapi karena sudah bertumpuk-tumpuk keputus-asaannya atas maksiat yang dilakukan, lalu dia benar-benar menjadi putus asa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA Jakarta Pusat | 12 Maret 2014 - video menit ke 07:00]

*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Thursday, March 13, 2014

Tidak Peduli dengan Bahagia dan Derita

Wacana SUFI ke-68

Dalam proses perjalanan ini, kadang-kadang rasanya kita tercekam dengan berbagai takdir, yang menurut kita sangat tidak enak. Dunia rasanya sempit sekali. Menengok sedikit rasanya sudah dihantam sesuatu.  
Itulah suasana ketika Allah menggenggam dalam keadaan mencekam hingga membuat dia sudah tidak bisa berkutik. “Ampun Ya Allah… ampun……. ampun….”, kira-kira seperti itu saja yang dapat dia lakukan. 
Kenapa Allah itu tidak menakdirkan yang enak-enak saja, tetapi diberi cobaan dan kesedihan ? agar anda jangan sampai merasa bersama Allah, hanya ketika dalam suasana tidak tercekam atau enak saja.  
Ketika nanti diberi peluang serba enak, rasanya bersama Allah. Tetapi ketika diberi cobaan, rasanya tidak bersama Allah. Maksudnya biar dia tidak berlaku seperti itu. 
Allah ketika membukakan peluang-peluang, kemudahan, enak, nyaman, indah, bahagia, supaya anda full tidak membiarkan bersama Allah hanya dalam kondisi tercekam. 
Kadang-kadang manusia ini, ketika diberi nikmat, dia benar-benar bisa beribadah. Tetapi ketika diberi penderitaan, dia tidak bisa beribadah, ibadahnya mulai tidak khusyuk.  
Kadang-kadang juga sebaliknya diberi penderitaan, dia beribadah sangat tekun, sedangkan diberi kebahagiaan dia lupa kepada Allah. Nah, karena itu oleh Allah dibikin fluktuatif sekalian -naik turun-, biar terlatih mental hati kita menghadapi kehidupan ini, supaya istiqomah bersama Allah.  
Kadang-kadang Allah mengeluarkan dari suasana baik mencekam maupun bahagia, artinya seorang hamba sudah tidak peduli dengan bahagia dan derita. Diberi enak juga rasanya bersama Allah, diberi tidak enak rasanya juga tetap bersama Allah.  
Kenapa Allah mengeluarkan orang tersebut dari kedua suasana seperti itu ? supaya seseorang tidak lagi memikir yang lain, tidak konsentrasi yang lain, kecuali hanya dengan Allah saja! "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Baiturrohim, Beji Timur, Depok | 11 Maret 2014 - video menit ke 24:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Saturday, March 8, 2014

Perbuatan yang lebih besar dosanya

Wacana SUFI ke-67

Merencanakan maksiat itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya. 
Disebutkan oleh Syaikh Zarruq ada 5 hal perbuatan diluar dosa tapi lebih besar daripada dosanya.

  1. Orang yg semangat ketika mau maksiat. Semangat bermaksiat itu lebih besar dosanya dibanding maksiatnya.
  2. Membiayai maksiat. “apa kamu mau maksiat ? saya kasih duit padamu untuk bermaksiat”. Orang yang membiayai itu lebih besar dosanya daripada perbuatan dosanya. 
  3. Mendukung kemaksiatan. Ada tindakan maksiat justru didukung. Dukungan itu lebih besar dosanya daripada maksiatnya.
  4. Menyepelekan atau meremehkan dosa. “ah kecil itu berdosa, Tuhan lebih besar ampunanNya”. Menyepelekan itu lebih besar daripada dosanya.
  5. Terus menerus berdosa. Habis berdosa, terus bertobat, setelah itu berdosa lagi. Wah pokoknya berdosa sudah sampai menjadi hobi. Hobi berdosa itu lebih besar dosanya dibanding tindakan dosa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid BANK INDONESIA | 5 Maret 2014 - video menit ke 16:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Wednesday, February 26, 2014

Tasawuf Membangun Optimisme

 

Wacana SUFI ke-66

Tasawuf itu membangun optimisme luar biasa. 
Jangan sampai dosa-dosa kita yang bertumpuk di masa lalu itu menimbulkan :
  1. Membuat kita kehilangan husnudzon kepada Allah swt. 
  2. Membuat istiqomah kita turun. 
Rata-rata orang habis berbuat salah, dia mulai tidak istiqomah, “waduh, saya banyak dosa”. Tiba-tiba dia malas tahajud, padahal biasanya rajin, "kayaknya Allah tidak senyum selebar kemarin”. 
Begitu juga sebesar apapun masa lalu kita, harus dipahami bahwa itu juga bagian cara Allah mendidik kita. Betapa banyak orang yang dididik oleh Allah melalui pintu-pintu kesalahan. 
 
Jadi kemudian dengan begitu, orang tetap husnudzon kembali kepada Allah, tetap terima kasih kepada Allah swt. 
Hari kemarin aku memang bersalah, tetapi bukan untuk besok aku bersalah lagi,
  1. Siapa tahu itu caraMu menakdirkan aku lebih dekat denganMu. 
  2. Siapa tahu itu adalah kesalahan terakhir yang Engkau takdirkan kepadaku, setelah itu tidak ada lagi. 
Dan tentu mantan salah, lebih baik daripada mantan benar. Orang benar terus, bisa berbahaya juga. Seperti apa bahayanya ? 
  1. Lama-lama membuat dia sombong, “sekarang aku yang paling benar nih” 
  2. Mulai mentakjubi/kagum pada proses perjalanan dirinya yang benar.
Kadang-kadang orang yang benar terus, oleh Allah swt langsung dijatuhkan, supaya menyadari, muncul kembali rasa butuh dan bersalahnya kepada Allah, sehingga kemudian dia mulai bersahaja kembali. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Baiturrohim, Beji Timur, Depok | 25 Februari 2014 - video menit ke 17:26]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Monday, February 24, 2014

Beda Bisikan Ilahi, Malaikat, Syetan dan Nafsu

 

Wacana SUFI ke-65

Himmah adalah cita-cita/hasrat yang kuat.  
Himmah muncul setelah irodah/kehendak, dan awal perjalanan kehendak/hasrat kita itu diawali oleh intuisi. 
Intuisi terbagi menjadi empat macam dan bagaimana cara kita membedakannya ?   
1. intuisi ilahi  
intuisi berupa seseorang diberi langsung oleh Allah swt, biasanya berupa ilham, karakteristiknya seseorang tiba-tiba tumbuh sebuah kesadaran yang luar biasa untuk dekat dengan Allah swt. 
2. intuisi malaikat 
Intuisi malaikat itu semacam terjadi dialog didalam bathinnya yang menuju kepada Allah swt. 
 
3. intuisi syetan 
Sebaliknya intuisi syetan juga terjadi dialog di dalam bathinnya tetapi berjalan menjauh dari Allah swt dan menuju keburukan. 
4. intuisi nafsu 
Kalo intuisi nafsu itu serentak, tetapi munculnya serba ingin senang, enak, malas, bebas dari tanggung jawab dst.  
 ------
Intuisi turun menjadi Irodah atau cita-cita/kehendak, lalu muncul menjadi himmah/hasrat. Dari hasrat menjadi azzam/tekad, dari tekad turun menjadi 'menuju tekad' baru berubah menjadi niat.  
Jadi niat itu posisi paling bawah dari gradasi intuisi. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Kantor Pusat PT TELKOMSEL Jakarta Selatan | 23 Januari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Thursday, February 20, 2014

TAKDIR Menurut Syariat Hakikat

Wacana SUFI ke-63

Memahami takdir secara syariat dan hakikat. 
Secara syariat bahwa apa yang kita usahakan selama ini akan dapat merubah sesuatu, sehingga kemudian Allah swt akan mengabulkan untuk merubahnya. Sedangkan secara hakikat bahwa semua yang terjadi, dapat berubah atau tidak berubah semuanya kehendak Allah swt.    
Menurut syariat atau akal pikirian bahwa apapun itu kalo 'baik' pasti datangnya dari Allah swt, kalo 'buruk' pasti datangnya dari nafsu kita. Tetapi berbeda jika menurut hati atau hakikat, bahwa 'baik' atau 'buruk' semuanya ditentukan Allah swt.  
--padahal yang disebut 'baik' itu belum tentu enak lho ya! yang benar maksudnya 'baik' adalah seluruh proses sampai gol berada dalam koridor kebajikan.-- 
Takdir oleh Rasulullah saw diposisikan di dalam Rukun Iman yang letaknya di wilayah qolbu atau wilayah hakikat, bukan di dalam Rukun Islam yang sering disebut wilayah syar’i/syariat. Dan hakikat itu tidak sekedar dipahami saja, tetapi harus diwujudkan dan dipraktekkan.  
Karena takdir di wilayah qolbu, maka hati kita lah yang seharusnya akan mengatakan takdir baik atau takdir buruk, takdir enak atau takdir tidak enak.  
Hal ini seperti di terangkan dalam Al-Quran, “Allah menentukan segala-galanya”. 
Kemudian ada orang yang beranggapan, “wah, kalo begitu saya mau marencanakan keburukan saja, karena semua dari Allah”, nah yang bicara seperti ini adalah akal pikiran, bukan dari hatinya. 
Jadi hati itu tidak akan pernah merekayasa. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid Jami' AL ISTIQOMAH, Depok2 Tengah | 7 Februari 2014 - video menit ke 00:00]


*********

perhatian: Bagi yang ingin download, harus ijin terlebih dahulu, dengan cara meninggalkan jejaknya, klik tombol Like/Jempol/Tweet/g+ atau mengisi Komen. 


Tuesday, February 18, 2014

Ingin Surga Dunia Harus Ridho

Wacana SUFI ke-62

Ada orang yang sudah berusaha dan melakukan amaliyah apapun, tapi sering tidak merasakan bahagia, sebenarnya mana yang disebut bahagia itu ? ini adalah kalimat yang menjebak.  
Sebenarnya di dunia ini bukan tempatnya bahagia, juga bukan tempatnya senang. Bahagia dan senang hanyalah sesuatu sepintas lewat saja. Justru ketika kita ridho, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. 
Surga itu isinya kebahagiaan. Jadi kalo ingin merasakan surga di dunia, harus ridho!. Ridho itu pintu Allah yang paling agung dan surga dunia. Termasuk ridho terhadap kondisi tidak bahagia tadi yang sedang kita alami. 
 
Jika anda sedang ingin menuju melakukan sesuatu apapun itu, misal ketika anda sedang ibadah, atau ketika anda beraktivitas, bahkan ketika anda ingin menegakkan kebenaran, ataupun ingin membuang kebathilan, kalo yang muncul di hati anda “ya Allah, sebenarnya aku melakukannya demi meraih ridhoMu”. Maka saat anda berjalan, rasanya menjadi enteng, tidak ruwet duluan yang ada di hati dan pikiran.  
Orang berjuang, ya berjuang saja. Jangan ketika mau berjuang, sudah terbayang berbagai masalah, kendala dan jalan keluarnya yang dipikirkan sebegitu ruwetnya. 
Coba dikembalikan saja, “ya Allah, ini semua dalam rangka meraih ridhoMu”. Itu tiba-tiba ya enteng saja, karena dia tidak punya beban, misal mengenai apa kata orang karena mungkin dia jaga image. 
Sebenarnya satu-satunya yang membebani kita adalah kalo kita tidak diridhoi oleh Allah dalam perjalanan ini. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Ponpes Ciganjur GUSDUR, Jakarta Selatan | 17 Januari 2011 - video menit ke 07:10]

Monday, February 17, 2014

Pasrahnya Kepada Allah Tidak Bernilai

Wacana SUFI ke-61

Banyak orang berbisnis memiliki pemikiran ketika dia pasrah kepada Allah, bisnisnya akan menuai sukses. 
Apakah ketika kita pasrah kepada Allah niatnya supaya sukses ? kalo benar pasrah kita kepada Allah niatnya sukses, pasrah kita tidak akan mendapat apa-apa. Bakal tidak mendapatkan pahala dan tidak ada nilainya sama sekali di hadapan Allah, karena pasrahnya supaya sukses.  
Ada cerita dari seorang kawan yang sedang bisnis jual-beli otomotif, dinasehati oleh temannya “kamu kalo bisnis jangan serakah. Pokoknya nanti kalo sudah dapat laba sedikit, jual saja. Tidak usah menunggu mendapat laba banyak. Keinginan menunggu laba banyak itu sudah serakah”. 
Akhirnya nasehat tersebut dijalankan, begitu dijalani benar terjadi, setiap dia beli mobil misal dengan harga 70jt, maksud rencananya begitu ada pembeli menawar dengan harga 72jt, bakal dia kasihkan. Tidak tahunya ada orang yang mau membeli sampai dengan harga 90jt. Lha, gara-gara saya tidak serakah ini, langsung mendapat laba banyak. 
Apa yang terjadi ? ini juga nilai cobaan muncul. Lantas dia berpikir “kalo begitu saya tidak serakah saja, supaya dapat laba banyak”, lha ini khan serakah juga. 
 
Perjalanan hati ini lembut sekali, kelihatannya sudah benar, tiba-tiba ternyata masih kepleset juga. Harus hati-hati. Makanya sebaiknya tidak perlu dipikir. 
Cukup Allah saja. Senang itu juga datang dari Allah. Tidak suka juga dari Allah. Ridho saja berjalan menuju Allah. 
Ada tikungan-tikungan yang sangat mengejutkan, ketika kita mulai tancap gas dan ngebut. Barangkali pernah hati kita berkata "wah asyik ini, benar Allah, saya mulai tawakal". Tiba-tiba muncul tikungan, sehingga membuat kita terjungkal kepleset. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Ponpes Ciganjur GUSDUR, Jakarta Selatan | 17 Januari 2011 - video menit ke 04:00]

Saturday, February 8, 2014

Mengalami Konflik Bathin

Wacana SUFI ke-57

Himmah itu adalah hasrat yang kuat.  
Meskipun himmah telah sesuai dengan rencana yang rapi, tetap tidak akan bisa merobohkan dinding takdir!. Hal tersebut perlu dipahami dalam bahasa hakekat, agar kita tidak mengalami konflik bathin dengan Allah.  
Orang sering mengalami konflik bathin dengan Allah ketika berikhtiar. Padahal sudah direncanakan dengan baik, caranya juga dengan cara yang baik, doanya juga baik. Dan kalo diukur dengan hukum syariat, ikhtiar tersebut sudah sangat sesuai dengan syariatnya, namun tetap saja hasilnya gagal berantakan.  
Kemudian orang menjadi susah dan bergolak bathinnya. Kondisi seperti ini jika hatinya tidak ditata, sangat mudah mengalami konflik antara pikiran dengan hatinya. Inilah mengapa Syech Ibnu ‘Athaillah menganggap hal ini sangat penting disampaikan, supaya seluruh proses hidup yang kita jalani ini, sebenarnya harus serasi dengan qudrat dan iradahnya Allah swt.  
 
Apa yang dimaksud berserasi itu ? yaitu apapun yang kita upayakan dan rencanakan, hasilnya sukses ataupun tidak, tetap itu takdirnya Allah swt. Ini juga berarti bahwa yang berjalan, yang berlangsung, memang semuanya kehendak Allah swt.  
Seandainya gagal, apakah itu juga termasuk kehendaknya Allah swt ? ya! kehendak Allah juga, karena kegagalan itu sebenarnya hakekat pemberian. Diberi dalam bentuk apa ? diberi gagal tadi. Oleh karenanya janganlah kita hanya terpaku hanya pada wujud, bentuk ataupun simbol dari yang ada.  
Contohnya alam semesta ini, kehidupan yang kita alami sehari-hari, kalo kita terpaku hanya pada wujud dan bentuk yang nyata di dunia ini saja, maka sesungguhnya kita sedang jauh dari yang menciptakan ini semua, Allah Rabbul Izzah. 
Inilah yang mengakibatkan munculnya aliran ‘materialisme’, yaitu suatu aliran yang berpandangan bahwa materi atau wujud nyata itu adalah akhir dari kebenaran.  
Kebenaran seperti apa ? misalnya kebenaran tentang 1+1 wujudnya itu harus sama dengan 2, dan api itu wujudnya harus panas, padahal dia lupa yang terjadi pada apinya Nabi Ibrahim itu tidaklah panas.  
Di dalam Al-Qur’an disebutkan “Allah itu berkuasa, meliputi kekuasaan atas segala hal apa saja, tidak ada ketentuan Allah yang tidak meliputi segalanya”. 
Termasuk juga kelemahan atau kemampuan kita, semuanya ditentukan oleh Allah swt. Seandainya tidak ada takdir dan ketentuan Allah swt, tentunya kita tidak akan pernah maujud dan tidak pernah nyata adanya. 
Sekarang yang penting adalah bagaimana kita dapat menata dan merespon posisi takdir dengan posisi ikhtiar sesuai dengan posisinya masing-masing. "
[DR. KHM. Luqman Hakim | Masjid An Nuur, Modern Hill, Pondok Cabe, Tangerang Selatan | 9 Desember 2013 - video menit ke 00:00]